8 Langkah Pengelolaan Keuangan Keluarga

July 12, 2013

Oleh Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP®
Perencana Keuangan di
www.suhaplanner.com

A. Pengantar

Pengelolaan Keuangan Keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan tingkat Kemakmuran Ekonomi sebuah keluarga. Pengelolaan keuangan yang dimaksud dalam hal ini adalah Perencanaan Keuangan, Dalam sebuah perencanaan keuangan yang baik akan terdapat daftar pemasukan dan pengeluaran uang secara terperinci. Dengan adanya daftar yang terperinci, Anda sebagai manager keuangan keluarga akan dapat mendeteksi setiap terjadi penyimpangan rencana keuangan.

Penyebab utama terjadinya penyimpangan perencanaan keuangan adalah kelemahan dalam membedakan antara “Kebutuhan dan Keinginan”. Pengeluaran uang untuk “Kebutuhan” sifatnya wajib karena terkait langsung dengan kebutuhan pokok Anda, sementara pengeluaran uang untuk “Keinginan” sifatnya tidak wajib sehingga hanya akan dikeluarkan pada saat-saat tertentu. Kalau Anda disiplin dalam menjalankan prinsip tersebut diatas, sangat tinggi kemungkinan kondisi keuangan Anda akan lebih baik dari sebelumnya.

Secara garis besar, Arus Kas keuangan keluarga terdiri dari dua bagian besar yaitu Arus Kas Masuk (AKM) dan Arus Kas Keluar (AKK). Arus kas masuk berasal dari penerimaan keluarga misalnya dari gaji, upah, hasil usaha sendiri dan penerimaan lainnya. Sedangkan arus kas keluar adalah pengeluaran uang untuk membayar kebutuhan dasar dan kebutuhan lainnya. Kebutuhan dasar terkait langsung dengan keberlangsungan hidup sebuah keluarga misalnya untuk kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sementara kebutuhan diluar itu disebut dengan kebutuhan lain (keinginan) dan sifatnya pengeluaran ini tidak wajib, misalnya keinginan untuk mengganti handphone biasa menjadi smartphone yang harganya lebih mahal, ini merupakan keinginan karena kalau kebutuhan untuk telekomunikasi sudah bisa menggunakan handphone biasa bukan?.

Apabila sisi penerimaan lebih besar daripada sisi pengeluran, kondisi ini disebut dengan positif atau surplus, selanjutnya apabila sisi penerimaan lebih kecil daripada sisi pengeluaran, kondisi ini disebut dengan minus atau shortage.

Kondisi keuangan yang diharapkan adalah kondisi yang positif atau surplus, karena dengan kondisi yang demikian Anda akan memiliki kemampuan untuk melakukan saving dan investasi untuk mengantisipasi kebutuhan keuangan dimasa yang akan datang. Karena kalau kondisi keuangan Anda negative, artinya untuk menutupi kebutuhan dasar saja Anda memerlukan tambahan income bukan..?

B. Langkah-Langkah Pengelolaan Keuangan Keluarga.

Untuk mencapai tujuan, Anda harus melewati jalan menuju titik tujuan. Jalan yang harus dilewati kadang mendatar, kadang menurun dan kadang mendaki. Untuk bisa melewati jalan yang naik dan turun dibutuhkan kondisi badan yang fit, sehingga Anda tetap semangat melewati jalan yang terjal sekalipun.

Ilustrasi ini sama halnya dengan pengelolaan keuangan, dimana untuk mencapai tujuan keuangan yang Anda telah tetapkan, Anda harus mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko yang siap menghadang. Tetapi dengan adanya usaha yang tekun dan disiplin yang kuat ditambah doa kepada Allah SWT,  Insya Allah tujuan akan dapat dicapai dengan baik.

Langkah Pertama (1)

Membuat daftar pengeluaran Anda setiap bulan baik itu pengeluaran rutin dan non-rutin. Setelah memiliki daftar pengeluaran setiap bulannya, selanjutnya Anda harus mengelompokkan seluruh pengeluaran tersebut kedalam dua kelompok besar yaitu pengeluran untuk Kebutuhan dan pengeluran untuk Keinginan.

Setelah memiliki dua kelompok besar pengeluaran, selanjutnya masing-masing pengeluaran tersebut disisir untuk dikelompokkon menjadi dua bagian yaitu rutin dan non-rutin. Sehingga dari hasil ini Anda akan memiliki 4 daftar pengeluaran yaitu Kebutuhan Rutin dan Kebutuhan Non-Rutin, Keinginan Rutin dan Keinginan Non-Rutin.

Langkah Kedua (2)

Membahas empat kelompok pengeluaran tersebut dengan Suami atau Istri Anda (pasangan), dalam pembahasan ini yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui apakah item atau pos pengeluaran yang telah ditulis tersebut sudah lengkap atau belum…?. Kalau memang sudah lengkap, selanjutnya yang Anda dan pasangan harus lakukan adalah menetapkan apakah sebuah pos pengeluaran tersebut perlu atau tidak…? kalau perlu berarti tetap dalam daftar, selanjutnya kalau tidak perlu dibuang dari daftar, proses ini dilanjutkan untuk semua pos pengeluaran.

Hasil saringan pertama tersebut diatas, disaring lagi menjadi dua kelompok yaitu pengeluaran rutin dan pengeluaran non-rutin..? Untuk pengeluaran rutin biasanya akan menjadi kebutuhan pokok, selanjutnya untuk pengeluaran non-rutin bisa menjadi kebutuhan pokok dan bisa juga menjadi keinginan.

Proses tersebut diatas akan menghasilkan empat kelompok pengeluaran yaitu sebagai berikut:

-                 Pengeluaran kebutuhan pokok rutin

-                 Pengeluaran kebutuhan pokok non-rutin

-                 Pengeluaran keinginan rutin

-                 Pengeluaran keinginan non-rutin

Adapun untuk sisi penerimaan uang, pada umumnya tidak begitu banyak jenisnya, hal ini sangat tergantung dengan jenis pekerjaan Anda. Apabila Anda seorang karyawan, pos penerimaan uang hanya ada dua pos yaitu “gaji pokok dan tunjangan lembur”. Sementara untuk Anda para profesional seperti akuntan, dokter, notaris, pedagang dan profesional lainnya, pos penerimaan dan jumlah penerimaan Anda tidak pasti setiap bulannya, oleh karena itu Anda harus melihat statistik dan catatan penerimaan uang Anda minimal dalam setahun terakhir, informasi ini akan sangat berguna untuk dijadikan sebagai dasar menetapak pos pemasukan uang Anda.

Langkah Ketiga (3)

Setelah Anda memiliki daftar penerimaan uang dan pengeluaran uang, dengan sendirinya Anda akan bisa mengetahui seberapa besar sisa kas yang Anda miliki setiap bulannya. Sisa kas ini juga dikenal dengan istilah Free Cash Flow, atau kas yang bebas untuk distribusikan kedalam berbagai alternatif pos pengeluaran, termasuk didalamnya saving dan investasi.

Pada umumnya, porsi pengeluaran bulanan seorang keluarga adalah 50% untuk kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan), 30% berikutnya untuk membayar cicilan hutang dan 20% sisanya diperuntukkan untuk saving dan investasi.

Langkah Keempat (4)

Risiko wajib dihadapi, karena dalam segala aspek kehidupan pasti ada risiko, perbedaanya hanya dari sisi ukurannya yaitu ada yang besar dan ada yang kecil. Demikian juga dalam pengelolaan keuangan keluarga, Anda memiliki risiko keuangan dan untuk itu hendaknya harus dihadapi dengan bijak yang diawali dengan cara melakukan identifikasi.

Hasil identifikasi ini akan menghasilkan informasi mengenai risiko-risiko yang potensial Anda hadapi. Daftar potensi risiko ini selanjutnya Anda pilah-pilah kedalam dua bagian besar yaitu risiko yang mampu dihadapi secara sendiri dan risiko yang tidak mampu dihadapi secara sendiri.

Untuk risiko yang mampu Anda hadapi selanjutnya dikeluarkan dari daftar risiko, karena secara ekonomi hal ini tidak akan menambah pos pengeluaran. Adapun untuk risiko yang tidak bisa hadapi secara sendiri, tentu Anda harus melimpahkan risiko ini kepada perusahaan Asuransi dengan cara membayar premi. Sehingga dengan demikian, Anda memiliki pos pengeluaran baru yaitu biaya premi.

 

Langkah Kelima (5) 

Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan keuangan. Tujuan keuangan paling tinggi adalah mencapai titik puncak apa yang disebut dengan financial freedom yaitu posisi dimana uang yang bekerja untuk Anda, bukan lagi Anda yang harus bekerja untuk mencari uang…enak bukan?

Dalam posisi yang demikian, fleksibilitas waktu yang Anda miliki sangat tinggi, sehingga sangat memungkinkan untuk melakukan terobosan dan improvisasi dalam menciptakan nilai tambah dan akumulasi asset.

Memang tujuan seperti tersebut diatas terlalu berat untuk di wujudkan, maka Anda saya sarankan untuk menetapkan tujuan keuangan mulai dari yang paling kecil, sehingga probabilitas untuk mewujudkannya sangat tinggi.

Seiring berjalannya waktu dan adanya tambahan pengalaman dari pengelolaan keuangan sebelumnya, akan sangat membantu Anda dalam menetapkan tujuan keuangan yang lebih besar dan pemilihan strategi untuk mempermudah pencapaian tujuan keuangan.

Proses ini Anda jalankan secara terus menerus, sehingga tanpa disadari, Anda sudah mencapai posisi puncak yaitu financial freedom.

 

Langkah Keenam (6)

Setelah menetapkan tujuan keuangan, langkah berikutnya yang Anda harus lakukan adalah menyusun strategi bagaiman cara mewujudkan tujuan tersebut. Dalam penyusunan strategi ini, hal pokok yang harus dipertimbangkan adalah instrumen investasi apa yang cocok dijadikan sebagai kendaraan untuk mempercepat pencapaian tujuan. Setiap pilihan instrumen investasi memiliki keuntungan dan sekaligus risiko. Untuk menjembatani risiko dan keuntungan, salah satu strategi yang disarankan untuk dilakukan adalah membuat portofolio investasi.

Portofolio investasi yang baik akan memiliki instrumen investasi yang saling melengkapi yaitu apabila instrumen A mengalami kerugian, maka disisi sebaliknya instrumen B akan menghasilkan keuntungan dan sebaliknya, sehingga secara total, posisinya akan tetap positif.

Beberapa contoh instrumen investasi keuangan yang umum dijadikan sebagai isi dari portofolio investasi adalah Saham, Reksadana, Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Surat Utang Negara (SUN), Unit Link, Asuransi Jiwa Murni, Valuta Asing, Emas.

Sebagai contoh untuk membuat portofolio yang aman adalah 50% asset dibelikan instrumen saham, 30% sisanya dibelikan instrumen Obligasi dan sisanya 20% dibelikan Emas. Pada saat harga saham naik, pada umunya harga obligasi akan turun dan harga emas akan tetap stabil. Kerugian akibat penurunan harga obligasi akan ditutupi oleh keuntungan dari kenaikan harga saham, sehingga secara total portofolio ini akan tetap mencatat keuntungan. Sementara untuk emas digunakan sebagai bumper, karena secara statistik harga emas untuk longterm akan meningkat secara terus menerus sesuai dengan trend inflasi yang terjadi.

Sebaiknya untuk menghidari kesalahan dalam menyusun portofolio investasi, Anda hendaknya menggunakan jasa profesional seperti Perencana Keuangan. Para profesional ini akan membekali Anda informasi yang relevan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk memilih alternatif investasi yang paling tepat.

 

Langkah Ketujuh (7)

Setelah melewati enam langkah sebelumnya diatas, Anda sekarang sudah memiliki informasi mengenai hal-hal sebagai berikut:

-          Pos pengeluaran rutin dan non rutin,

-          Pos pengeluaran untuk kebutuhan dan keinginan,

-          Prioritas pos pengeluaran setiap bulannya,

-          Seberapa besar Free Cash Flow Anda yang bisa di investasikan,

-          Profile risiko dan penangannya

-          Tujuan keuangan yang Anda,

-          Instrumen Investasi sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan,

-          Portofolio investasi yang cocok dengan profile risiko dan tujuan keuangan Anda.

-          Strategi investasi yang akan dilakukan untuk mempercepat pencapaian tujuan.

Informasi yang tersedia diatas adalah menjadi pondasi yang akan dijadikan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan terkait dengan menjalankan perencanaan keuangan.

Dalam langkah ke enam ini, Anda dituntut untuk bisa menjalankan rencana keuangan dengan disiplin. Karena sebagus apapun rencana keuangan yang dibuat, tanpa adanya disiplin yang ketat dari pelaksana, perencanaan keuangan tidak akan memberikan hasil yang diharapkan.

 

Langkah Kedelapan (8)

Langkah terakhir yang Anda harus lakukan adalah memantau hasil rencana keuangan dalam periode tertentu secara rutin. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan bahwa rencana keuangan berjalan dalam koridor yang telah ditetapkan.

Apabila rencana investasi tidak sesuai dengan harapan, maka perlu dilakukan strategi re-balancing atau merombak ulang portofolio investasi, sehingga dalam periode berikutnya kinerja portofolio diharapkan memberikan hasil yang positif. Hal ini dilakukan secara terus menerus, sampai tujuan keuangan tercapai.

 

C. Contoh Perencanaan Keuangan Keluarga.

Misalnya keluarga baru Tn. Abdul dan istrinya Ny. Kartika yang baru menikah awal tahun 2013 merencanakan pada ulang tahun ke 5 pernikahannya nanti, mereka sudah memiliki rumah idaman. Perkiraan harga rumah idaman yang mereka inginkan adalah kira-kira Rp.300 juta. Tn Abdul adalah pegawai tetap sebuah perusahaan dengan gaji Rp.10 juta per bulan, sementera istrinya adalah Ibu Rumah Tangga biasa, sehingga pos penerimaan keluarga ini hanya Rp.10 juta per bulan.

Berdasarkan pengalaman dari pola pengeluaran dari keluarga ini, ternyata 50% penghasilan digunakan untuk biaya kebutuhan pokok, 20% untuk membayar cicilan kendaraan dan premi asuransi, sedangkan 30% sisanya di tabung sebagai dana emergency dan investasi.

Kembali kepada tujuan keuangan untuk memiliki rumah lima tahun yang akan datang yang harganya diperkirakan Rp.300 juta. Sementara itu disisi lain pos penerimaan yang bisa di alokasikan untuk di investaskan hanya sebesar Rp.3 juta. Artinya kalau dihitung dengan jumlah bulan selama lima tahun (60 bulan), akumulasi uang tersebut hanya Rp.180 juta, sehingga masih kurang Rp.120 juta.

Sekarang apa yang harus dilakukan untuk mempercepat akumulasi asset..?

-          Mencari alternative instrument investasi yang dapat memberikan return maksimal, sehingga investasi sebesar Rp.3 Juta per bulan tersebut, akan menjadi Rp.300 juta pada bulan ke enam puluh.

 

Dengan menggunakan perhitungan Future Value Interest Factor Annuity (FVIFA), ternyata tingkat suku bunga yang harus dicapai untuk menjadikan cicilan Rp.3 juta per bulan tersebut menjadi Rp.300 juta dalam lima tahun yang akan datang adalah sebesar 19% per tahun.

Berdasarkan informasi diatas, selanjuntya Anda harus membangun portofolio investasi yang kira-kira return per tahunnya sebesar 19 % s/d 20 %.

 

Kalau instrument investasi konvensional berupa Deposito di bank, hal ini mustahil dicapai, karena saat ini tingkat suku bunga deposito hanya dikisaran 4 % tahun, artinya Anda membutuhkan tambahan kira-kira 16%.

Beberapa alternative investasi yang disarankan untuk dilakukan oleh Tn. Abdul adalah membeli produk-produk Reksadana, dimana produk ini dapat memberikan return jauh di atas bunga deposito.

 

-          Apabila opsi pertama tidak memungkinkan dan tidak cocok dengan profile risiko Tn. Abdul, maka Tn. Abdul tetap bisa menggunakan instrument deposito, karena harus diingat bahwa masyarakat Indonesia masih banking minded, artinya tingkat kepercayaan terhadap bank jauh lebih tinggi dibandingkan dengan institusi keuangan lainnya.

 

Dengan menggunakan opsi deposito di bank, tingkat suku bunga deposito yang umum hanya di kisaran 5 %, dan terdapat batasan jumlah minimum deposito dalam hal ini Rp.10 juta. Oleh karena itu, Tn. Abdul baru bisa membuka deposito setiap tiga bulan.

 

Berdasarkan asumsi tersebut diatas, jumlah cicilan per bulan yang harus dikeluarkan oleh Tn. Abdul adalah sekitar Rp.4,750,000  atau 47.5% dari penghasilan bulanannya.

 

Apabila dibandingkan anggaran untuk cicilan investasi dengan realisasi, ternyata terdapat selisih kurang sebanyak 17.5%, disinilah berperan analisis prioritas, artinya yang lebih penting diutamakan, dan ingat manusia adalah mahluk yang paling bisa menyesuaikan keadaan.

Demikian, semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda dalam pengelolaan keuangan keluarga.

Untuk konsultasi masalah Perencanaan Keuangan, Anda dapat menghubungi kami di Nomor: 08129767143 atau 087881791990 langsung dengan Bapak Subur Harahap, MM, CFP atau kirim email ke suhaplanner@yahoo.com.

 

Selanjutnya untuk memastikan Anda tetap mendapatkan artikel-artikel berikutnya, saya sarankan Anda mendaftarkan email anda sebagai follower dari blog www.suhaplanner.com di menu yang sudah kami sediakan.


Perbedaan Tabungan dengan Investasi

July 5, 2013

Perbedaan Tabungan dengan Investasi

PERBEDAAN TABUNGAN vs INVESTASI

Oleh Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP

Perencana Keuangan – www.suhaplanner.com

Tabungan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tabungan yang diselenggarakan oleh Bank Umum. Sesuai dengan aturan yang berlaku, pemengan rekening tabungan harus memiliki kartu identitas. Bertolak dari peraturan ini, dapat disimpulkan bahwa pemegang rekening tabungan adalah orang dewasa.

Bagi bank sebagai penyelenggara tabungan, produk tabungan adalah sumber modal dana murah. Karena setiap dana yang dihimpun dalam rekening tabungan hanya diberikan bunga tidak lebih dari 2% per tahun atau 0.17% per bulan. Sementara uang tersebut ketika disalurkan kepada debitur dalam bentuk kredit, tingkat bunga yang akan dikenakan pasti diatas 12% per tahun. Artinya dari hitungan kasar tersebut sudah kelihatan bagaimana profit yang diperoleh oleh bank dari bisnis simpan pinjam ini.

Untuk menggenjot kesetabilan jumlah dana pihak ketiga dalam rekening tabungan, pihak bank banyak melakukan program tabungan berhadiah dengan hadiah yang super pantastis, mulai dari gadget teranyar, Uang Tunai, Sepeda Motor dan bahkan Mobil Mewah sekelas Mercy dan BMW pun sering dijadikan sebagai hadiahnya. Dengan harapan mendapatkan hadiah undian, nasabah pemilik rekening tabungan berlomba-lomba menaikkan saldo tabungan untuk meningkatkan probabilitas memenangkan hadiah. Tetapi tetap saja namanya undian, bisa menang dan bisa gigit jari alias kalah, sementara itu bank tetap menikmati empuknya dana murah nasabah dari tabungan.

Dari sisi perencana keuangan, jumlah uang dalam tabungan hanya disarankan untuk menutupi biaya hidup dan biaya emergency, sisanya disarankan untuk di investasikan dalam instrument yang dapat memberikan imbal hasil lebih tinggi. Dengan cara yang demikian, tingkat pertumbuhan asset akan semakin cepat dibandingkan seluruh uang yang dimiliki di simpan dalam rekening tabungan.

Sebagai contoh, Keluarga Tn. Abdul adalah keluarga dengan 2 orang anak dan memiliki biaya hidup dalam sebulan kira2 Rp.5,000,000. Dengan mengetahui jumlah biaya bulanan tersebut, berarti jumlah dana emergency keluarga ini adalah minimal Rp.30,000,000 atau 6 x kebutuhan bulanan.

Diibaratkan Tn. Abdul memiliki rekening tabung dengan saldo sebesar Rp.75,000,000, tabungan ini dibiarkan terus bertambah tanpa dipindahkan ke instrument investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, misalnya seperti Deposito. Tingkat suku bungan tabungan 2% per tahun dan tingkat suku bunga deposito 5% per tahun.

Dari contoh tersebut diatas, kita dapat menghitung opportunity loss Tn. Abdul karena tidak menyisihkan sebagian uang dalam rekening tabungan kepada Deposito. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat perbandingan berikut ini:

 

Alternatif Pertama

Tetap disimpan dalam tabungan

Penghasilan bunga tabungan à Rp.75 juta x 2%                               = Rp.1,500,000

 

Alternatif Kedua

Selisih Saldo dengan Dana Emergency disimpan dalam Deposito

Penghasilan bunga Tabungan à Rp.30 juta x 2 % = Rp.600,000

Penghasilan bunga Deposito à Rp.45 juta x 5% = Rp.2,250,000

Total Penghasilan bunga                                                                     = Rp.2,850,000

Opportunity Loss Tn. Abdul                                                              = Rp.1,350,000

 

Bisa Anda bayangkan, bilamana kejadian ini berlangsung dalam tempo 5 tahun berturut-turut, artinya total kerugian yang dialami oleh Tn. Abdul adalah lebih besar dari Rp.6,750,000.

 

Investasi.

Investasi adalah membeli asset dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga (capital gain) dan imbalan bunga lainnya. Karena yang diharapkan itu adalah capital gain yang timbul dari akibat adanya pergerakan harga, maka investasi menjadi sangat berisiko dibandingkan dengan produk tabungan.

Pergerakan harga mengindikasikan bahwa ada mekanisme pasar yang berproses, artinya kalau pasar membaca ada keterbatasan supply atas asset yang Anda pegang maka dengan sendirinya nilai jual asset Anda akan meningkat. Tetapi sebaliknya juga bisa terjadi, dimana ketika pasar melihat bahwa supply atas asset yang Anda miliki berlebih atau dengan kata lain lebih besar penawaran darapada permintaan, dengan sendirinya nilai asset Anda akan tergerus turun. Inilah yang disebut dengan risiko pasar (systematic risk), kita tidak bisa mendikte pasar oleh karena itu kita harus menyesuaikan dengan kondisi pasar.

Selanjutnya, asset itu sendiri juga memiliki risiko yang sangat identik dengan dirinya atau dikenal dengan unsystematic risk. Sebagai contoh ketika Anda memiliki asset property, dimana pada awalnya tidak pernah terjadi banjir, tetapi karena kualitas tanggul yang ada di sekitar property Anda melemah, maka setiap terjadi hujan lebat, air sungai pasti akan masuk kedalam property Anda.

Dengan kondisi tersebut diatas, misalkan pada saat Anda membeli property tersebut harganya Rp.100 juta, apakah Anda yakin bahwa dengan kondisi yang sering banjir tersebut nilai asset Anda sekarang masih Rp.100 juta. Dalam kondisi normal hampir dapat dipastikan hal itu tidak akan terjadi, artinya investasi anda bukannya mendapatkan gain atau keuntungan tetapi malah mendapatkan kerugian.

Penjelasan dua contoh diatas mengajarkan kepada kita bahwa untuk berinvestasi hendaklah pelajari, ketahui risikonya dan kalau memang sudah mampu menanggung risiko yang akan terjadi dan menganggap imbal hasilnya juga akan tinggi, berarti investasi boleh dilanjutkan. Tetapi kalau tidak kuat menanggung risiko yang kemungkinan besar terjadi, sebaiknya rencana investasi dibatalkan atau dialihkan kepada instrument lain. Pertimbangan yang demikian tidak akan ditemukan dalam produk tabungan, karena imbal hasil sudah ditetapkan didepan dan pasti akan dibayar pada saat jatuh tempo.

Mengingat pada umumnya investasi itu membutuhkan dana yang relative lebih besar dibandingkan menabung di bank, sangat disarankan untuk mengumpulkan dana terlebih dahulu dalam rekening tabungan khusus untuk menghindari penggunaan diluar yang direncanakan. Selanjutnya setelah jumlahnya mencukupi jumlah minimum yang dipersyaratkan untuk instrument investasi yang diinginkan, baru dipindahkan kedalam instrument tersebut, ini hanya sebagai contoh, karena hal ini harus disesuaikan dengan kondisi keuangan Anda.

 

Tabungan Vs Investasi.

Setelah mehamami secara singkat mengenai karakteristik dari Tabungan dan Investasi, dapat disarikan bahwa perbedaan dan persamaan kedua instrument tersebut adalah kurang lebih sebagai berikut.

Tabel : 1

Perbandingan Tabungan dengan Investasi

Kriteria

Tabungan

Investasi

Keterangan

Risiko Hampir Tidak Ada Ada Risiko investasi tidak terbatas
Imbal hasil (Return) Pasti Tetapi Kecil Sekali Tidak Pasti dan kemungkinan imbal hasilnya lebih besar dari tabungan Ada trade of antara risk and return
Penjamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Tidak Ada  
Regulator dan Pengawas Bank Indonesia & Otoritas Jasa Keuangan Otoritas Jasa Keuangan  
Minimum Setoran
  • Rp.10,000
  • Rp.100,000
Reksadana
Jangka Waktu Tidak dibatasi Dibatasi sesuai dengan Term & Condition  
Point of Service Tersebar, Kantor Cabang dan Cabang Pembantu Bank Terkonsentrasi ditempat tertentu  

 

Semoga article ini dapat mencerahkan Anda, apabila ada hal yang ingin di tanyakan dapat melayangkan email ke : suhaplanner@yahoo.com atau telp ke 08129767143 dengan Bapak Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP.

Untuk memastikan Anda mendapatkan article terbaru dari SUHA Planner – Financial Consulting, Anda bisa mendaftarkan alamat email Anda sebagai follower kami di menu yang tertera dalam website kami.


Aplikasi Prinsip Time Value of Money dalam Pengelolaan Keuangan Keluarga

July 5, 2013

Aplikasi Prinsip Time Value of Money Dalam Pengelolaan Keuangan Keluarga

Aplikasi Prinsip Time Value of Money

Dalam Pengelolaan Keuangan Keluarga

Oleh : Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP®

Perencana Keuangan – www.suhaplanner.com

=========================================================================

Salam Cerda$ Finan$ial untuk Anda.

 

Pengelolaan keuangan yang cerdas adalah kata kunci untuk sukses secara financial. Untuk bisa cerdas dalam mengelola keuangan, Anda harus memiliki dan mengerti ilmu keuangan. Dengan berbekal ilmu keuangan yang Anda miliki, Anda akan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam waktu yang tepat pula. Karena harus diingat, keputusan yang tepat, tidak akan ada gunanya kalau tidak realissikan pada waktu yang tepat pula, istilah kerennya OMDO alias omongan doang.

Salah satu bentuk keputusan yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan keuangan adalah waktu (timing). Oleh karena itu kesempatan untuk mendapatkan keuntungan tidak akan bisa direalisasikan kalau tidak dilakukan pada waktu yang tepat.

Disamping itu, timing juga merupakan variable penting dalam menetapkan berapa besarnya jumlah cicilan yang Anda harus lakukan untuk mendapatkan sejumlah uang tertentu dimasa yang akan datang. Semakin cepat Anda memulai investasi, semakin ringan cicilan yang Anda harus lakukan dan sebaliknya cicilan Anda akan semakin berat apabila waktu yang tersedia sudah semakin singkat.

Variable penting lainnya yang Anda harus perhatikan dalam menyusun perencanaan investasi adalah tingkat pengembalian (return) atau dikenal juga dengan istilah bunga. Tingkat pengembalian (bunga) harus ditetapkan dalam range yang moderat, artinya jangan terlalu kecil dan jangan pula terlalu besar. Kalau tingkat bunga yang ditetapkan terlalu besar, ada kehawatiran sulit untuk merealisasikannya, sehingga tunjuan keuangan Anda tidak akan tercapai. Sebaliknya kalau tingkat bunga yang ditetapkan terlalu kecil, beban cicilan Anda terlalu besar, sehingga dikwatirkan menggangu cash flow bulanan Anda.

Tetapi kalau boleh memilih, pilihan yang paling aman adalah tingkat bunga yang rendah, artinya secara sadar kita sudah perkirakan bahwa kejadian yang paling buruk yang akan terjadi. Kalau dalam kondisi yang paling buruk saja Anda masih tetap survive, artinya risikonya keuangan Anda tentunya semakin kecil.

 

PRINSIP TIME VALUE OF MONEY

Prinsip dasar “Time Value of Money” adalah nilai dari Rp.1,000,- hari ini, lebih besar nilainya dibandingkan dengan Rp.1,000,- yang akan diterima dimasa yang akan datang. Prinsip dasar ini tentu akan menimbulkan pertanyaan besar dalam benak Anda yang belum paham, apa gerangan yang menyebabkan dan melatar belakangi konsep dasar ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, mari kita ilustrasikan secara langsung dengan menggunakan contoh kasus nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga mudah memahaminya.

Misalkan harga beras Rojo Lele per Kg pada tahun 2008 adalah sebesar Rp.6,500, sementara harga beras yang sama pada tahun ini adalah sebesar Rp.11,000 per Kg. Kalau kita lihat dari sisi kualitas dan rasa beras tersebut tidak ada bedanya sama sekali, sama-sama enak di makan dan pulen. Sementara kalau dilihat dari sisi harga, ternyata terjadi peningkatan harga kurang lebih sekitar 69% dalam tempo 5 tahun.

Melihat penomena tersebut diatas, timbul pertanyaan berikutnya, yaitu kenapa harga beras bisa naik padahal kualitas berasnya sama persis? Jawabannya adalah karena prinsip “time value of money” bekerja, dimana nilai uang sebesar Rp.6,500 tahun 2008, nilainya akan sama dengan uang sebesar Rp.11,000 saat ini atau bisa juga dijelaskan dengan menyebutkan bahwa nilai nominal uang meningkat, tetapi nilai rielnya (daya belinya) pada dasarnya tidak mengalami perubahan sama sekali yaitu tetap hanya bisa membeli 1 Kg beras Rojo Lele.

Perubahan nilai nominal pada kasus diatas terjadi akibat adanya pengaruh dua variable yaitu variabel waktu (n) dan tingkat suku bunga (r). Dalam kasus ini, variable waktu (n) adalah sebesar 5 yaitu selisih antara tahun 2013 dengan tahun 2008, sementara variabel tingkat suku bunga (r) adalah sebesar 11.09% per tahun.

Dengan menggunakan contoh kasus diatas, tetapi dengan sudut pandang yang sama tetapi dengan ilustrasi yang berbeda ternyata hasilnya juga akan tetap sama. Misalkan Anda mendapatkan uang sebesar Rp.6,500 pada tahun 2008 dan langsung menyimpannya dalam rekening tabungan Simpedes BRI dan diketahui rata-rata tingkat suku bunga tabungan BRI selama lima tahun belakangan ini kurang lebih 11.09% per tahun. Pertanyaan-nya adalah berapakah nilai nominal uang Anda saat ini di rekening tabungan BRI…?

Pertanyaan diatas dapat dijawab dengan menggunakan rumus turunan dari konsep “time value of money” yaitu dikenal dengan Rumus Future Value à {NPV x (1+r)^n}.

Dimana diketahui:

  • NPV adalah nilai uang saat ini (tahun 2008) à Rp.6,500
  • r adalah tingkat suku bunga à 11.09% atau 0.1109
  • n adalah jumlah periode tahun à 5 tahun

Perhitungan:

Future Value   = NPV x (1 + r) ^ n

Future Value   = Rp.6,500 x (1 + 0.1109)^5

Future Value   = Rp.6,500 x 1,6923

Future Value   = Rp.11,000

Selanjutnya untuk lebih memantapkan pemahaman Anda mengenai konsep time value of money, sekarang ilustrasi di atas dirubah sudut pandangnya yaitu saat ini (tahun 2013) Anda memiliki uang sebesar Rp.11,000, berapakah nilai uang tersebut pada bulan Januari tahun 2008 yang lalu… dan diketahui tingkat suku bunga sebesar 11,09% per tahun…?

Pertanyaan diatas dapat dijawab dengan menggunakan rumus Present Value. Dalam rumus present value ini, Anda ibaratkan memiliki uang dalam jumlah tertentu pada awal tahun 2008 yaitu kita sebut nilainya dengan “X”, rata-rata tingkat suku bunga setiap tahunnya adalah sebesar 11,09% p.a, sehingga nilai nominal uang tersebut akan menjadi Rp.11,000 dalam tempo lima tahun yang akan datang.

Rumus Present Value adalah [ PV = FV x { 1 / (1+r)^n } ]

Dimana diketahui :

PV       = ?

FV       = Rp.11,000

r           = 11.10% p.a. atau 0.1109

n          = 5

Untuk menghitungnya, mari kita masukkan nilai variable tersebut dalam rumus Present Value (PV) yaitu sebagai berikut:

PV       = FV x { 1 / (1+r)^n}

PV       = Rp.11,000 x { 1 / (1 + 0.1109)^5}

PV       = Rp.11,000 x 0.590909

PV       = Rp.6,500

Hasil yang diperoleh akan tetap sama, yaitu nilai nominal uang sebesar Rp.6,500 tahun 2008, daya belinya akan sama dengan uang sebesar Rp.11,000 saat ini (tahun 2013), dengan asumsi rata-rata tingkat suku bunga per tahuan sebesar 11,09 %.

Note:

Tingkat suku bunga (margin atau diskonto) dapat juga diartikan sebagai tingkat inflasi yang terjadi setiap tahunnya, karena pada prinsipnya inflasi juga akan mengurangi daya dari uang.

 

APLIKASI PRINSIP TIME VALUE OF MONEY

DALAM KEUANGAN KELUARGA

Konsep time value of money sangat banyak gunanya dalam kehidupan kita khususnya yang berhubungan dengan masalah keuangan. Banyak permasalahan yang dapat diselesaikan dengan menggunakan konsep time value of money, bahkan perhitungan yang sangat rumit menjadi mudah dan sederhana dengan menggunakan konsep time value of money. Beberapa kasus aplikatif yang dapat menggunakan konsep time value of money adalah sebagai berikut:

-                 Untuk mengetahui berapa tingkat pengembalian (bunga) yang Anda peroleh atas suatu program investasi yang Anda lakukan.

-                 Untuk mengetahui berapa jumlah cicilan perbulan atas suatu pinjaman.

-                 Untuk mengetahui berapa jumlah iuran pensiun perbulan atas rencana dana pensiun.

-                 Untuk mengetahui berapa jumlah investasi perbulan untuk mendapatkan asset yang diinginkan.

-                 Untuk mengetahui berapa tingkat pengembalian yang harus diperoleh untuk mencapai suatu tujuan keuangan.

-                 Dll.

 

A. Untuk Mengetahui Berapa Keuntungan Yang Anda Peroleh atas Suatu Investasi Tunggal

 

Misalkan tahun 2000, Tn. Badu membeli tanah seluas 1000 m2 dengan harga Rp.500,000 per meter atau Rp.500,000,000. Pada tahun 20013, tanah tersebut ditawar orang untuk dibeli dan dijadikan gudang barang elektronik dengah harga Rp.1,000,000 per meter.

Dengan menggunakan rumus Future Value, anda akan dapat mengetahui berapa tingkat pengembalian per tahun atas investasi Tn. Badu tersebut diatas dalam angka relatif atau persentase. Selanjutnya tingkat pengembalian dalam bentuk persentase tadi, akan bisa langsung dibandingkan dengan benchmark return investasi dalam pasar uang dan investasi (tingkat kenaikan harga IHSG per tahun). Misalkan rata-rata market return IHSG dalam 13 tahun terakhir adalah 10% per tahun.

Dalam kasus ini, Anda mendapat 2 manfaat sekaligus dari aplikasi konsep time value of money yaitu mengetahui berapa besarnya tingkat pengembalian Tn. Badu dari investasi tanahnya dan langsung bisa mengukur kinerja tingkat pengembalian program investasi ini dengan market return (IHSG). Sehingga dengan demikian Anda memiliki dasar untuk menjelaskan bahwa pilihan investasi dalam bentuk tanah merupakan keputusan yang tepat atau bukan.

Selanjutnya mari kita lengkapi perhitungan Future Value dari hasil investasi Tn. Badu.

 

Diketahui :

PV       = Rp.500,000,000

FV       = Rp.1,000,000,000

N         = 13

 

Ditanya = r

 

Jawab              à        FV                   = PV x (1 + r)^n

Rp.1 M            = Rp.500 jt x (1+x)^13

Rp.1 M            = Rp.500 jt x (1 + 0.054766)

Rp.1 M            = Rp. 1 M

Berarti tingkat pengembalian per tahun adalah sebesar 0.054766 atau 5.48%, sehingga apabila dibandingkan dengan market return, ternyata kinerja investasi dalam tanah tidak begitu menggembirakan karena hasilnya menunjukkan bahwa market return lebih besar 82.50%

 

 

B. Untuk Mengetahui Berapa Jumlah Cicilan Pinjaman Per Bulan Atas Sejumlah Pinjaman.

Misalnya Tn. Badut meminjam uang sebesar Rp.1 M kepada Bank Syariah Mandiri Cabang Tanjung Priok – Jakarta. Uang tersebut akan digunakan untuk membeli mesin pabrik pengolahan roti. Disepakati uang sejumlah tersebut diatas akan dikembalikan secara angsuran dalam tempo 5 tahun (60 bulan) terhitung mulai tanggal 1 Januari 2013. Tingkat suku bunga atau margin yang disepakati dalam transaksi ini adalah sebesar 12.00 % per tahun.

Dengan menggunakan rumus aplikasi time value of money, akan dapat diketahui berapa jumlah cicilan atas pinjaman tersebut diatas yaitu sebagai berikut:

Diketahui :

Present Value              = Rp.1 M

Margin / Bunga           = 12 % p.a. atau 1% per bulan

N Period                      = 5 tahun atau 60 bulan

 

Berapa cicilan (PMT) per bulan          = ?

 

Untuk lebih memudahkan penghitungan, Anda bisa menggunakan rumus yang terdapat dalam excel, dimana Anda dapat menulis rumus seperti berikut ini dalam sel excel à “=pmt(rate,nper,pv)”. Dimana :

 

PMT    = jumlah cicilan per bulan

Rate     = tingkat suku bunga per bulan

Nper    = jumlah periode (bulan)

PV       = Present Value

 

 

Apabila variable yang ada dimasukkan dalam rumus excel akan kelihatan seperti ini

(untuk mendapatkan article yang lengkap dengan gambarnya,  Anda bisa download file-nya disudut kira atas tulisan ini)

 

Hasilnya menunjukkan Rp.22,244,447 per bulan.

 

Mudah bukan menggunakan excel!

 

C. Untuk Mengetahui Berapa Jumlah Iuran Pensiun Untuk Program Dana Pensiun Anda.

 

Masa pensiun adalah masa purna bhakti, dimana dalam masa ini Anda akan menikmati hidup tanpa beban sebagaimana layaknya ketika Anda dalam usia produktif. Namun banyak kejadian yang menyedihkan yaitu dalam masa purna bhaktinya, bukannya pikiran menjadi plong tetapi malah semakin menderita, karena harus mencari uang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari sementara kemampuan pisik untuk bekerja sudah jauh menurun.

 

Untuk mengantisipasi kejadian tersebut diatas, Anda sebagai orang yang care terhadap masa depan Anda, sudah selayaknya sejak dini menyiapkan program dana pension mandiri. Saat ini banyak produk investasi keuangan yang dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangbiakkan dana Anda. Dengan program investasi yang tepat dan disusun berdasarkan portofolio dan profile risiko Anda, diharapkan dana yang akan terkumpul pada saat Anda memasuki usia pension tidak akan jauh meleset.

 

Misalkan Tn. Alex seorang professional pertambangan minyak yang bekerja di Exxon Mobil Indonesia, saat ini usianya 35 tahun dan memiliki 2 orang putra dan istri tidak bekerja alias Ibu Rumah Tangga. Karena Tn. Alex orang yang care terhadap masa depannya, maka beliau berencana untuk membuat program dana pension mandiri yaitu program dana pension yang dikelola sendiri dengan menggunakan instrument keuangan sebagai wahana untuk mengembangbiakkan assetnya.

 

Rencananya Tn. Alex akan memasuki usia pension pada umur 55 tahun. Biaya hidup per bulan saat ini adalah sebesar Rp.10 juta dan diperkirakan biaya hidup Tn. Alex pada saat memasuki usia pension adalah 70% dari biaya hidup bulanan sebelum memasuki usia pension. Diperkirakan tingkat suku bunga atau market return per tahun adalah 15%, adapun tingkat kenaikan biaya hidup atau inflasi kira-kira 10% per tahun. Gaji Tn. Alex saat ini adalah sebesar Rp.20 juta. Menurut data statistic, usia orang Indonesia rata-rata 70 tahun.

 

Berdasarkan informasi yang disediakan diatas, Anda diminta untuk menghitung berapa iuran pension yang harus disisihkan oleh Tn. Alex untuk program dana pension mandirinya…?

 

Diketahui:

 

Usia Saat ini                                        = 35 tahun

Usia Pensiun                                       = 55 tahun

Masa Program Dana Pensiun              = 20 tahun

Gaji tahun ini                                      = Rp.20 juta

Biaya Hidup bulanan saat ini              = Rp.10 juta

Tingkat Market Retrun                       = 20 %

Tingkat inflasi biaya hidup                 = 10 %

 

Ditanya berapa iuran dana pension Tn. Alex..?

 

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung, berapa besarnya biaya hidup setelah masa pension.

 

Step – I

Biaya hidup saat ini (Present Value)               = Rp.10 juta

Tingkat inflasi per tahun (r)                            = 10 % atau 0.8333% per bulan

Periode (n)                                                      = 20 tahun atau 240 bulan

Ditanya Future Value                                     = …?

 

Jawaban à     FV                               = PV x (1 + r)^n

FV                               = Rp.10 Juta x (1+0.833%)^240

FV                               = Rp.10 Juta x 7.3280

FV                               = Rp.73,280,736 atau dibulatkan Rp.73 juta

 

Step – II

Selanjutnya, setelah nilai nominal Rp.10 juta dalam 20 tahun yang akan datang diketahui, maka kita bisa menghitung berapa biaya hidup per bulan pada masa 20 tahun yang akan datang yaitu 70% dari nilai tersebut sehingga menjadi Rp.51,1 juta (70% x Rp.73 juta).

 

Step – III 

Mencari berapa nilai asset yang harus dimiliki pada saat usia pension jatuh tempo, hal ini dapat dihitung dengan cara mengalikan Rp.51, 1 juta tersebut dengan perkiraan periode masa pension (bulan), dalam kasus ini adalah 15 tahun yaitu selisih 70 – 55 atau dalam bentuk bulan menjadi 180 bulan. Sehingga nilai asset yang harus terbentuk adalah sebesar Rp.9,198,000,000 atau dibulatkan mendi Rp.9 M. Nilainya cukup besar bukan…?

 

Step – IV

Mencari berapa iuran bulanan untuk mendapatkan dana sebesar Rp.9 M pada masa 20 tahun yang akan datang…?

 

Tingkat Market Return           = 20%

N period                                  = 20 tahun atau 240 bulan.

Future Value                           = Rp.9 M

Iuran Pensiun                          = ….?

 

Yang harus terlebih dahulu dicari adalah Future Value Interest Factor Annuity (FVIFA), yaitu sebagai berikut?

FVIFA                        = [((1 + r)^n-1) – 1] / r

FVIFA                        = [((1 + 1.667%)^240-1)] / 1.667%

FVIFA                        = 50.96 / 1.667%

FVIFA                        = 3,057.69

 

Setelah mendapatkan angka FVIFA, selanjutnya kita membagikan Rp.9 M dengan nilai FVIFA, sehingga ditemukan besarnya cicilan dana pension per bulan.

 

Cicilan Dana Pensiun              = Dana Pensiun / FVIFA

Cicilan Dana Pensiun              = Rp.9 M / 3,057.69

Cicilan Dana Pensiun              = Rp.2,943,400 atau dibulatkan menjadi Rp.2,950,000.

 

Dengan demikian dapat diketahuai, bahwa untuk mendapatkan dana sebesar Rp.9 pada masa 20 tahun yang akan datang, kita perlu melakukan iuran sebesar Rp.2,950,000 per bulan dengan asumsi tingkat return 20% per tahun, simple bukan …?

 

Metode perhitungan diatas juga bisa digunakan untuk menghitung antara lain :

-          berapa cicilan atau cadangan biaya pendidikan anak ketika ingin memasuki bangku kuliah.

-          berapa cicilan atau investasi yang harus dilakukan untuk membeli rumah atau mobil dimasa yang akan datang.

 

Untuk konsultasi Perencana Keuangan, dapat menghubungi kami di 08129767143 atau 087881791990 langsung komunikasi dengan Bapak Subur Harahap, MM, CFP atau kirim email ke suhaplanner@yahoo.com.

 

Selanjutnya untuk memastikan Anda tetap mendapatkan artikel-artikel berikutnya, saya sarankan Anda mendaftarkan email anda sebagai follower dari blog www.suhaplanner.com di menu yang sudah kami sediakan.

 


Perbedaan Bunga Anuitas dengan Bunga Tetap (Flat)

July 5, 2013

Perbedaan Bunga Kredit Anuitas VS Bunga Kredit Flat

Perbedaan Bunga Kredit Anuitas (Annuity)

dengan  Bunga Kredit Tetap (Flat)

Oleh : Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP®

Perencana Keuangan –  www.suhaplanner.com

Saya yakin Anda pasti pernah mendengar keluhan teman atau saudara Anda yang kebetulan menjadi nasabah peminjam (debitur) sebuah bank atau lembaga pembiayaan. Keluhan yang umum pasti tidak jauh dari kasus seperti berikut ini :

  1. Bunga yang dibebankan oleh bank ternyata lebih besar daripada yang dipahami oleh Debitur.
  2. Jumlah cicilan bulanan kredit tiba-tiba meningkat tanpa ada pemberitahuan.

Untuk bisa menjelaskan dan menjawab keluhan dari debitur tersebut diatas, langkah pertama yang Anda harus lakukan adalah mempelajari isi Surat Perjanjian Pinjaman terlebih dahulu. Klausul penting yang Anda harus perhatikan dalam Surat Pernjanjian tersebut adalah klausul atau pasal yang mengatur tata cara penghitungan beban bunga. Dalam sistem perbankan dan pembiayaan dikenal tiga sistem penghitungan beban bunga yaitu Sistem Bunga Anuitas, Bunga Efektif dan Bunga Tetap (Flat).

Selain tata cara penghitungan beban bunga, pasal lain yang perlu Anda perhatikan adalah pasal mengenai tingkat suku bunga yang akan dibebankan. Sebagaimana diketahui bahwa tingkat suku bunga kredit pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Negara secara umum. Oleh karena itu apabila kondisi ekonomi suatu Negara berjalan dengan baik dan tidak ada goncangan yang sangat menggangu, biasanya tingkat suku bunga kredit di Negara tersebut akan tetap berada pada level yang sama untuk jangka waktu diatas satu tahun. Sebaliknya kalau kondisi ekonomi lagi tidak baik maka tingkat suku bunga akan berfluktuatif mengikuti kondisi ekonomi. Kejadian bunga berfluktuatif ini adalah efek negatif dari turunya kepercayaan investor terhadap pasar, akibatnya timbul ketidak pastian dalam pasar. Kompensasi ketidak pastian inilah yang mengakibatkan tingkat suku bunga kredit berfluktuatif dan cenderung meningkat.

Untuk mempersingkat cerita, marilah kita bahas keluhan dari debitur tersebut diatas satu persatu.

 

 

 

 

 

A. Bunga Yang Dibebankan Ternyata Lebih Besar Daripada Yang Dipahami Oleh Debitur.

Asal mula dari permasalahan ini hampir dapat dipastikan akibat salah persepsi, dimana pihak debitur hanya berpatokan kepada tingkat suku bunga yang akan dibebankan tanpa mengerti bagaimana tingkat suku bunga tersebut diaplikasikan untuk menghitung beban bunga yang akan dibayar kelak.

Padahal perbedaan metode penghitungan beban bunga adalah merupakan masalah serius khususnya kepada Anda calon Debitur. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan contoh kasus berikut ini.

Tn Adul seorang pengusaha Kusen di daerah Bekasi berencana untuk meningkatkan omset usaha dengan cara menambah modal kerja. Untuk kepentingan tersebut Tn Adul menyampaikan niatnya ini kepada rekannya yang sudah terlebih dahulu mendapatkan kredit modal kerja dari sebuah bank. Informasi yang dapat diperoleh Tn Adul dari hasil pembicaraan dengan rekannya tersebut adalah pinjaman sebesar Rp.10 juta, dengan tempo 1 tahun, tingkat suku bunga 12%, cicilan per bulan adalah Rp.888,488.  Sementara informasi mengenai metode penghitungan beban bunga tidak dibicarakan sama sekali, karena mereka sebenarnya tidak terlalu paham dengan istilah dan cara-cara tersebut.

Berbekal informasi tersebut diatas, Tn Adul mempersiapkan dokumen yang diperlukan dan membuat surat pengajuan kredit modal kerja kepada sebuah bank yang kebetulan kantornya dekat dengan tempat usaha Tn Adul. Singkat cerita pengajuan kredit dari Tn. Adul sebesar Rp.10 juta disetujui oleh bank dengan tingkat suku bunga 12% dengan tempo 1 tahun dan menggunakan metode bunga tetap (flat rate) untuk penghitungan beban bunganya. Besarnya cicilan per bulan adalah sebesar Rp.933,333 bukan Rp.888,488 seperti yang dikenakan kepada rekan Tn Abdul.

Tn Adul terkejut, kenapa jumlah cicilan antara saya dengan rekan saya berbeda?, padahal jumlah uang kami pinjam sama besarnya yaitu Rp.10 juta dan tingkat suku bunga yang dibebankan juga sama yaitu sama-sama 12%. Ternyata setelah ditelusuri klausul/pasal dalam perjanjian kredit Tn Adul adan rekannya, ketahuan perbedaannya terletak pada metode penghitungan beban bunga. Kredit rekan Tn. Adul menggunakan metode anuitas (annuity rate) sementara kredit Tn Adul menggunakan metode bunga tetap (flat rate).

Untuk lebih jelas mengenai permasalahan ini Anda dapat membandingkan antara dua table dibawah ini, dimana Tabel-1 menggunakan sistem bunga anuitas (annuity rate) dan Tabel-2 menggunakan sistem bunga tetap (flat rate).

 

 

Tabel – 1

Daftar Cicilan Pinjaman – Metode Bunga Annuitas (Annuity Rate)

Bulan

Saldo Akhir

Cicilan

Pokok

Bunga

Saldo Awal

   10,000,000.00

          1.00

        10,000,000.00

$888,487.89

         788,487.89

       100,000.00

     9,211,512.11

          2.00

          9,211,512.11

$888,487.89

         796,372.77

         92,115.12

     8,415,139.35

          3.00

          8,415,139.35

$888,487.89

         804,336.49

         84,151.39

     7,610,802.85

          4.00

          7,610,802.85

$888,487.89

         812,379.86

         76,108.03

     6,798,423.00

          5.00

          6,798,423.00

$888,487.89

         820,503.66

         67,984.23

     5,977,919.34

          6.00

          5,977,919.34

$888,487.89

         828,708.69

         59,779.19

     5,149,210.65

          7.00

          5,149,210.65

$888,487.89

         836,995.78

         51,492.11

     4,312,214.87

          8.00

          4,312,214.87

$888,487.89

         845,365.74

         43,122.15

     3,466,849.13

          9.00

          3,466,849.13

$888,487.89

         853,819.40

         34,668.49

     2,613,029.73

        10.00

          2,613,029.73

$888,487.89

         862,357.59

         26,130.30

     1,750,672.14

        11.00

          1,750,672.14

$888,487.89

         870,981.17

         17,506.72

         879,690.98

        12.00

              879,690.98

$888,487.89

         879,690.98

           8,796.91

                      0.00

 TOTAL

   10,000,000.00

       661,854.64

Catatan : Pinjaman Rp.10 juta, tingkat suku bunga 12 %, periode cicilan 1 tahun,


Tabel – 2

Daftar Cicilan Pinjaman – Metode Bunga Tetap (Flat Rate)

Bulan

Saldo Akhir

Cicilan

Pokok

Bunga

Saldo Awal

10,000,000.00

        1.00

      10,000,000.00

            933,333.33

       833,333.33

     100,000.00

 9,166,666.67

          2.00

          9,166,666.67

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     8,333,333.33

          3.00

          8,333,333.33

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     7,500,000.00

          4.00

          7,500,000.00

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     6,666,666.67

          5.00

          6,666,666.67

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     5,833,333.33

          6.00

          5,833,333.33

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     5,000,000.00

          7.00

          5,000,000.00

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     4,166,666.67

          8.00

          4,166,666.67

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     3,333,333.33

          9.00

          3,333,333.33

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     2,500,000.00

        10.00

          2,500,000.00

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     1,666,666.67

        11.00

          1,666,666.67

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

         833,333.33

        12.00

              833,333.33

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

                           -

 TOTAL

   10,000,000.00

   1,200,000.00

Catatan : Pinjaman Rp.10 juta, tingkat suku bunga 12 %, periode cicilan 1 tahun,

Apabila Anda bandingkan kedua table tersebut diatas, Anda akan menemukan bahwa dengan tingkat suku bunga yang sama yaitu 12%, beban bunga yang akan ditanggung oleh Debitur dengan sistem bunga tetap akan lebih besar 80% (selesih lebih besar Rp.538,146) dibandingkan dengan Debitur yang menggunakan sistem bunga anuitas, besar bukan bedanya!

Melihat kejadian sebagaimana diilustrasikan diatas, hendaknya ketika Anda mengajukan kredit kepada bank atau lembaga keuangan, tolong perhatikan metode penghitungan beban bunga yang akan diaplikasikan. Karena belum tentu tingkat bunga yang kecil otomatis jumlah cicilannya akan lebih kecil dibandingkan dengan tingkat suku bunga yang lebih besar.

 

Sebagai tambahan perbandingan tingkat bunga tetap (flat rate) sebesar 10%, 1 tahun cicilan akan sama biayanya dengan tingkat suku bunga anuitas sebesar 17%, 1 tahun cicilan, jauh bukan bedanya!.

 

B. Jumlah Cicilan Tiba-tiba Meningkat Tanpa Ada Pemberitahuan.

Untuk menjelaskan permasalahan ini saya coba bawa Anda kepada sebuah iklan dari salah satu bank di Indonesia, iklannya kira-kira seperti berikut ini :

“Wujudkan Mimpi Anda Untuk Memiliki Rumah Idaman Melalui Program Kredit Griya KPR++, Bunga 8.00 % Untuk 1 Tahun Pertama, Minimum Jangka Waktu Kredit 8 Tahun”

Kalau Anda perhatikan pesan daripada iklan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat suku bunga 8% hanya akan berlaku untuk periode 1 tahun pertama. Adapun untuk sisa tahun berikutnya akan berlaku tingkat suku bunga pasar yang berlaku atau disesuaikan dengan kondisi pasar. Oleh karena itu, apabila kondisi pasar sedang bergejolak, yang ditandai dengan tingginya tingat tingkat inflasi, hampir dapat dipastikan tingkat suku bunga kredit Anda akan melejit naik cepat.

Sebaliknya, bilamana kondisi ekonomi membaik kembali, tingkat suku bunga juga akan turun mengikuti kondisi pasar (harusnya), namun hal ini jarang terjadi karena bank biasanya baru akan menyesuaikan atau menurunkan bunga apabila ada pengajuan dari Debitur.

Kembali kepada pertanyaan 2 diatas “Kok..tiba-tiba cicilan kredit saya naik” jawabannya adalah karena terjadi peningkatan bunga pasar, oleh karena itu bank menyesuaikan peningkatan bunga tersebut. Hal ini bisa dilakukan secara sepihak oleh bank karena dalam klausul perjanjian, Debitur sudah membolehkan bank untuk menyesuaikan tingkat suku bunga kredit setelah melewati batas yang diperjanjikan.

Hal yang demikian tidak akan terjadi dalam transaksi kredit atau pembiayaan dengan sistem bank syariah. Karena dalam praktek bank syariah, Debitur dan Bank adalah mitra yang sejajar, oleh karena itu setiap perubahan klausul dalam perjanjian harus sama-sama disetujui kedua belah pihak.

Disamping itu, dalam transaksi bank syariah, kredit atau dalam bank syariah dikenal dengan istilah pembiayaan dilakukan dengan sistem jual beli. Ketika akad jual beli disepakati kedua belah pihak, harga atas objek yang dibiayai sudah ditetapkan oleh kedua belah pihak. Harga jual yang disepakati tersebut sudah mengandung keuntungan atau margin yang akan menjadi keuntungan bank. Adapun proses membayar secara cicilan tersebut adalah merupakan salah satu metode cara pelunasan dan ini tidak dibertentangan dengan prinsip syariah.

 

Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas selanjutnya dapat disimpulkan perbedaan antara Sistem Bunga Kredit Anuitas dengan Sistem Bunga Tetap (Flat Rate) adalah sebagai berikut:

Tabel-3

Perbedaan dan Persamaan Antara

Sistem Bunga Anuitas Dengan Bunga Tetap (Flat)

No

Uraian

Bunga Anuitas

Bunga Tetap (Flat)

Keterangan

1

Dasar pengenaan beban bunga. Dari saldo akhir setiap bulan. Tetap dari jumlah kredit yang diterima o/ debitur. Perbedaan

2

Bersarnya jumlah cicilan/ pembayaran per bulan Jumlanya sama Jumlahnya sama Persamaan

3

Komponen pembayaran pokok pinjaman setiap bulan. Jumlahnya berbeda, semakin lama, porsi pembayaran pokok pinjaman semakin besar. Jumlahnya sama, karena besarnya cicilan/pembyrn pokok pinjaman, merupakan hasil rata-rata antara jumlah kredit yang diterima dengan periode masa cicilan. Perbedaan

3

Komponen pembayaran bunga pinjaman setiap bulanan. Jumlahnya akan berbeda: cicilan bunga periode 1 > dari cicilan bunga ke 2, dst Jumlahnya sama, karena penghitungan bunga tetap dari jumlah kredit yang diterima. Perbedaan

4

Keadilan (fairness) Adil, karena bunga pinjaman dihitung dari saldo akhir pinjaman. Tidak adil, karena pokok pinjaman yang sudah dibayar debitur tidak dipertimbangkan. Perbedaan

 

C. Kesimpulan dan Saran untuk Anda pembaca.

  1. Sebelum menyetujui perjanjian kredit, hendaknya baca dan pelajari klausul yang ada, sehingga Anda mengerti dan paham apa yang menjadi hak dan kewajiban Anda sebagai Debitur.
  2. Tingkat suku bunga yang kecil belum tentu cicilannya lebih kecil dari tingkat suku bunga kredit yang lebih besar. Faktor yang sangat menentukan adalah metode atau sistem penghitungan beban bunga. Ingat contoh kasus di atas, perbedaannya kurang lebih 80%, apakah Anda mau diperbudak kredit?
  3. Untuk memastikan Anda membayar beban bunga sesuai kondisi pasar dan fair, jadikan metode penghitungan bunga anuitas sebagai acuan Anda. Buatlah perhitungan bunga dengan metode Anuitas dengan jumlah cicilan yang sama dengan metode penghitungan bunga tetap atau flat yang ditawarkan oleh bank atau lembaga keuangan. Apabila tingkat suku bunganya dalam range kondisi bunga pasar, berarti Anda diperlakukan secara adil oleh kreditur Anda, kalau tidak coba Anda tawar, mereka pasti akan mempertimbangkannya. Tips praktis yang Anda bisa gunakan adalah menggunakan fasilitas What-If-Analysis dalam excel Anda.
  4. Jikalau Anda tidak memiliki kemampuan untuk membuat analisis seperti tersebut diatas, saya sarankan Anda untuk menemui Konsultan Perencana Keuangan yang terdekat dengan Anda. Anda dapat menanyakan berbagai hal seputar masalah keuangan dan investasi atau Anda bisa datang ke tempat kami www.suhaplanner.com.

 

Demikian dan semoga bermanfaat buat Anda.

 

Semoga article ini dapat mencerahkan Anda, apabila ada hal yang ingin di tanyakan dapat melayangkan email ke : suhaplanner@yahoo.com atau telp ke 08129767143 dengan Bapak Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP.

Untuk memastikan Anda mendapatkan article terbaru dari SUHA Planner – Financial Consulting, Anda bisa mendaftarkan alamat email Anda sebagai follower kami di menu yang tertera dalam website kami.


Jangan Terkesima Return Yang Tinggi

July 3, 2013

Jangan Terkesima Return Yang Tinggi

Tahun Manajer Investasi A 1 40% 2 50% 3 -20% 4 60% 5 30%

Tampak bahwa kinerja manajer investasi A berfluktuasi. Pada tahun pertama dana kelolaannya naik 40% dan tahun kedua naik 50% selanjutnya turun 20% namun tahun keempat naik 60%, kemudian tahun kelima turun 30%. Secara keseluruhan rata-rata kinerja manajer investasi A adalah 20% ( jumlahkan kinerja lima tahun tersebut dan bagilah dengan 5 ).

Sedangkan manajer investasi B yang mempunyai kinerja rata-rata 15% dengan catatan prestasi seperti tabel 2.

Tahun Manajer Investasi B
1 15%
2 15%
3 15%
4 15%
5 15%

Tampak disini manajer investasi B lebih konsisten kinerjanya. Namun tetap saja return-nya dibawah return manajer investasi A. Kalau begini keadaannya apakah salah, bila investor memilih manajer investasi A ? Bukankah manajer investasi A menghasilkan uang yang lebih banyak ?

Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dihitung berapa uang yang bisa dihasilkan masing-masing manajer investasi dengan cara mengasumsikan uang sebesar masing-masing Rp. 100 sebagai modal awal yang dikelola oleh kedua manajer investasi tersebut. Dana awal Rp. 100 ditahun pertama dikelola manajer investasi A akan menjadi Rp. 140 ( = Rp. 100 x 1.40) sedangkan dengan manajer investasi B dana awal Rp. 100 menjadi Rp. 115 ( = Rp. 100 x 1.15 ). Pada tahun kedua, dana kelolaan sebesar Rp. 140 di manajer investasi A naik 50% menjadi Rp. 210 ( = Rp. 140 x 1.50 ) sedangkan dana kelolaan manajer investasi B pada tahun kedua naik 15% menjadi Rp. 132.3 ( = Rp. 115 x 1.15 ) . Demikian seterusnya kita selesaikan perhitungan hingga akhir tahun kelima. Hasil dari pengelolaan kedua manajer investasi disajikan pada tabel berikut :

Tahun Manajer A Hasil Pengelolaan A Manajer B Hasil Pengelolaan B
1 40% Rp. 140.0 15% Rp. 115.0
2 50% Rp. 210.0 15% Rp. 132.3
3 -20% Rp. 168.0 15% Rp. 152.1
4 60% Rp. 268.8 15% Rp. 174.9
5 30% Rp. 188.2 15% Rp. 201.1

Tampak disini hasil kelolaan manajer investasi B ( Rp. 201.1 ) lebih tinggi dibanding manajer investasi A ( Rp. 188.2 ). Dengan demikian investor seharusnya memilih manajer investasi B yang sekilas tampak “hanya” memberikan return 15% saja.

Dari sini kita bisa menarik paling tidak tiga pelajaran yaitu :

  1. untuk menghitung return, gunakanlah geometric return yang mengukur berapa Rp. yang dihasilkan. Jangan menggunakan arithmetic return atau rata-rata return tahunan. Bila kita menghitung return manajer investasi A dengan geometric return maka hasilnya adalah 13.48% yang didapat dari rumus [((1+r1)*(1+r2)*(1+r3)*(1+r4) .*(1+rn))^(1/n)]-1 . Atau dengan kata lain bila dana awal Rp. 100 dikelola oleh manajer investasi A selama lima tahun dengan return konsisten sebesar 13.48% maka pada akhir tahun kelima hasilnya adalah Rp. 188.2 seperti terlihat di tabel. Singkat kata return sebenarnya bukan 20% seperti yang dia klaim,
  2. selain perhitungan return, perhatikan resiko yang dinyatakan dari konsistensi return. Semakin konsisten kinerjanya semakin kecil resikonya. Apa jadinya bila investor menginvestasikan dana misalnya pada awal tahun kelima, investor tersebut akan kehilangan 30% dananya. Dengan manajer investasi yang volatil kinerjanya kita tidak tahu kapan saat yang menguntungkan untuk berinvestasi,
  3. sebelum memilih manajer investasi, asumsikan hal terburuk yang bisa terjadi dengan berinvestasi pada tahun terburuk dan lihat apakah kita sanggup menerima resiko sebesar itu.

Masih banyak lagi yang harus diperhatikan selain faktor resiko dan return seperti siapa tim manajer investasi, bagaimana pengambilan suatu keputusan investasi, bagaimana kredibilitas perusahaan / grup afiliasinya, kebijakan investasinya, peraturan perpajakan dan masih banyak lagi informasi yang bisa digali dari prospectus, company profile dan laporan tahunan ( annual report ). Namun dengan memperhatikan return dan resiko setidaknya kita bisa menghindari potensi kerugian apabila ada manajer investasi atau agen penjual yang menyembunyikan kinerjanya dibalik return yang ” tinggi “.

Oleh : Parto Kawito – Pengamat Pasar Modal


Tips Pengajuan Kredit atau Pinjaman kepada Bank

July 3, 2013

Beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan tamu yang membuat saya agak surprise, karena kedatangannya dimaksudkan untuk konsultasi masalah pengajuan kredit perbankan dengan saya. Rupanya beliau ini tidak mengetahui bahwa saya sudah tidak bekerja sebagai marketing kredit perbankan lagi.

Agak terharunya saya dan romantisme pekerjaan saya yang lampau jadi membuat saya ingin membuat tulisan untuk sharing masalah perbankan terutama perkreditan, yang telah saya geluti dalam lebih dari 4 tahun terakhir sebelum saya resign dari bank tempat saya bekerja tsb. Saya ingin berbagi wawasan tentang tips dan trik dalam pengajuan kredit pada bank atau lembaga keuangan pada umumnya. Mudah mudahan ada manfaatnya.

Ok, cukup prolognya, mari kita masuk ke inti artikel saya. Saya akan lebih berbicara ke teknis praktis dibanding ke teoritisnya.

A. Pertama kita bagi dulu kredit berdasarkan siapa penggunanya:

  1. Kredit Consumer, yang digunakan untuk keperluan konsumtif, seperti rumah, kendaraan pribadi, multiguna (biaya pendidikan, rumah sakit, dll), dengan obyeknya adalah pengusaha, profesional (spt dokter, notaris, dll) dan juga karyawan. Bentuk kredit consumer biasanya berupa kredit angsuran pokok plus bunga setiap bulannya.
  2. Kredit Commercial, yang digunakan untuk keperluan bisnis/usaha, baik berupa modal kerja maupun investasi pembelian aset perusahaan. Obyeknya ditetapkan ‘hanya’ pengusaha. Bentuk kredit ini ada dua macam: kredit rekening Koran (over draft) yang bisa ditarik lalu disetor kembali sesuai kebutuhan yang mana setiap akhir bulan debitur hanya perlu membayar bunga dari jumlah pinjaman yang terpakai, dan juga bentuk kredit angsuran pokok dan bunga.

B. Syarat Administratif, berupa data diri, data penghasilan, data jaminan, data perbankan.

1. Secara umum data diri berupa KTP, Kartu Keluarga, Akta Nikah, dan NPWP.

2. Untuk data penghasilan, adalah keseluruhan dokumen sumber dana/penghasilan ybs.

  • Untuk karyawan: slip gaji, surat keterangan kerja dan rekomendasi terkait.
  • Untuk professional: surat keterangan praktek dari instansi terkait, ijin usaha praktek yang valid dan masih berlaku (untuk professional yg memiliki tempat usaha sendiri), laporan keuangan atau catatan penghasilan. Untuk professional yang merangkap kerja di instansi lain (missal dokter praktek di RS, karyawan Dinas Kesehatan) maka hendaknya lampirkan pula seluruh slip gajinya.
  • Untuk pengusaha: SIUP (surat ijin usaha), SITU/HO (Ijin gangguan atau surat ijin tempat usaha), TDP (tanda daftar perusahaan), Laporan Keuangan In House (buatan perusahaan ybs) baik neraca maupun rugi laba.

3. Data Jaminan, untuk kredit dengan jaminan rumah, tentu saja bank akan meminta Sertifikat tanah ybs (seperti SHM/Sertifikat Hak Milik, juga SHGB/Sertifikat Hak Guna Bangunan, IMB (Ijin Mendirikan Bangunan), dan copy PBB terakhir. Untuk kredit dengan jaminan mobil, bank akan memegang BPKBnya.

4. Data Perbankan, umumnya berupa rekening Koran, yaitu cetakan rekening baik berupa buku tabungan, print-out, dari seluruh rekening yang dimiliki, dari berbagai bank di mana ybs memiliki rekening. Untuk yang telah memiliki pinjaman di bank atau lembaga keuangan lain, biasanya juga diminta prin-out rekeningnya. Untuk data perbankan, pihak bank akan melengkapi sendiri dua syarat internal berupa DHBI (Daftar Hitam Bank Indonesia) dan BI Cheking (Tingkat Kolektibilitas BI) untuk yang dua ini akan dijelaskan di poin selanjutnya. Intinya calon debitur harus bersih dari daftar DHBI dan memiliki tingkat kolektibilitas tidak bermasalah di bank lain.

C. Pengetahuan hal lain yang berkaitan dengan kredit:

1. Tingkat dan jenis suku bunga kredit

Dalam dunia credit financing, terdapat 2 macam jenis bunga yang umum digunakan, bunga FLAT dan bunga EFEKTIF. Untuk perbankan umumnya menggunakan sistem suku bunga efektif, sementara koperasi, leasing, BPR, umumnya menggunakan system bunga flat.

Bunga Efektif adalah bunga yang dibebankan pada besarnya outstanding pinjaman (sisa hutang) pada bulan ybs, sementara Bunga Flat adalah bunga yang dihitung dari besarnya pokok hutang di awal pinjaman kemudian dibagi rata oleh jangka waktu kredit. Jatuhnya jumlah nominal bunga flat jauh lebih besar daripada bunga efektif. Seberapa besar bedanya? Saya contohkan sbb:

Jumlah Pinjaman Vidi: Rp. 10.000.000 jangka waktu 1 tahun, suku bunga efektif 10% /tahun, dan Pinjaman Noni Rp. 10.000.000, jangka waktu 1 tahun, suku bunga Flat 10% /tahun. Siapa yg membayar bunga lebih besar?

Bunga Efektif:

Pokok Pinjaman 10,000,000 Pembayaran Pokok Pembayaran Bunga
Bulan 1 9,166,667 833,333 83,333
Bulan 2 8,333,333 833,333 76,389
Bulan 3 7,500,000 833,333 69,444
Bulan 4 6,666,667 833,333 62,500
Bulan 5 5,833,333 833,333 55,556
Bulan 6 5,000,000 833,333 48,611
Bulan 7 4,166,667 833,333 41,667
Bulan 8 3,333,333 833,333 34,722
Bulan 9 2,500,000 833,333 27,778
Bulan 10 1,666,667 833,333 20,833
Bulan 11 833,333 833,333 13,889
Bulan 12 0 833,333 6,944
Total 10,000,000 541,667

Bunga Flat:

Pokok Pinjaman 10,000,000 Pembayaran Pokok Pembayaran Bunga
Bulan 1 9,166,667 833,333 83,333
Bulan 2 8,333,333 833,333 83,333
Bulan 3 7,500,000 833,333 83,333
Bulan 4 6,666,667 833,333 83,333
Bulan 5 5,833,333 833,333 83,333
Bulan 6 5,000,000 833,333 83,333
Bulan 7 4,166,667 833,333 83,333
Bulan 8 3,333,333 833,333 83,333
Bulan 9 2,500,000 833,333 83,333
Bulan 10 1,666,667 833,333 83,333
Bulan 11 833,333 833,333 83,333
Bulan 12 0 833,333 83,333
Total 10,000,000 999,996

Dalam jenis suku bunga juga dibedakan antara suku bunga fixed (tetap) dan floating (mengambang). Suku bunga fixed artinya untuk kredit tersebut selama jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan di awal perjanjian kredit tidak akan berubah besarnya. Contoh: KPR dengan Fixed rate 1 tahun 11% pa, artinya bunga KPR tersebut dari bulan pembayaran 1 -12 besar bunganya 11 % pertahun, pada bulan ke 13 tingkat suku bunga mengikuti yang berlaku pada saat itu.

Untuk bunga floating, artinya sejak awal pemberian kredit, tingkat suku bunga yang berlaku mengikuti perubahan bunga pasar.

  1. Besarnya biaya yang terkait dengan pemberian kredit. Jumlah biaya tergantung dari kebijakan masing masing bank. Biaya biaya yang terkait dan harus dipenuhi antara lain:
  • Biaya Administrasi dan Provisi untuk Bank
  • Biaya Notaris: biaya akta perjanjian kredit, biaya pemasangan hak tanggungan (dulu:hipotik) untuk tanah/bangunan, biaya pemasangan fiducia untuk jaminan kendaraan (seperti hipotik pada tanah), biaya pengecekan sertifikat (ke BPN) atau BPKB (ke kantor kepolisian).
  • Biaya Asuransi: Asuransi Kebakaran (untuk jaminan bangunan, besarnya biaya asuransi ditentukan oleh besarnya estimasi harga nominal bangunan menurut bank), Asuransi All Risk (semua resiko) atau Total Loss Only (TLO) untuk jaminan kendaraan, Asuransi Jiwa debitur ybs (umumnya untuk kredit KPR).

 

D. Tips dan Trik dalam Pengajuan Kredit

Tips dan trik ini dimaksudkan bukan untuk mengakali perbankan (saya yakin mereka memiliki staf yang jeli untuk urusan pemberian kredit), tapi untuk memperlancar persiapan pengajuan rekan pembaca dalam mengajukan kredit.

1. Tentukan dulu kebutuhan anda. Kebutuhan apa yang anda inginkan untuk dibiayai bank. Untuk karyawan biasanya lebih simple, beli rumah, beli kendaraan, dst. Sementara untuk professional dan pengusaha lebih kompleks. Apabila yang anda perlukan adalah suntikan untuk perputaran modal, misalnya untuk mengurangi hutang dagang sehingga harga yang didapat lebih murah, atau untuk memperbanyak inventori/persediaa n barang, maka yang diajukan adalah kredit modal kerja, seperti rekening Koran, kredit akseptasi dsb. Sementara bila yang anda butuhkan adalah pembiayaan pembelian fixed asset seperti mesin, kendaraan, bangunan ruko, gudang dll, ajukan kredit investasi.

2. Estimasikan kemampuan pembayaran (payback ability) anda. Dari laporan keuangan atau gaji/pendapatan yang anda peroleh setiap bulannya, ambil titik aman bahwa besarnya kewajiban pembayaran tidak lebih besar dari 30% pendapatan bersih anda (DBR umum setiap bank adalah 30-35% dari total pendapatan ). Contoh: Vidi dan suaminya memiliki total penghasilan Rp. 3.000.000, maka jadikan patokan dalam diri Vidi kalau besar angsuran nanti tidak boleh lebih dari Rp. 1.000.000 perbulannya nanti. Untuk pengusaha, hitung tingkat DBR anda dari Nett Profit jangan Gross (untuk lebih amannya)

3. Periksa pemenuhan syarat administrasi anda. Untuk karyawan, pastikan anda telah bekerja di perusahaan anda lebih dari 2 tahun (ada juga bank yang menerapkan lebih dari itu), status pendapatan tetap (adanya komponen gaji tetap, untuk dihitung dalam perhitungan DBR), untuk pendapatan yang sifatnya hanya komisi (tidak tetap) biasanya bank akan cenderung menolak. Demikian juga untuk professional dan pengusaha, paling tidak ijin praktek/usaha di atas 2 tahun dari tanggal terbit, atau telah menjalankan usahanya selama di atas 2 tahun.

4. Perhatikan data dan fisik jaminan anda. Untuk dokumen pastikan sertifikat yang absah dan berlaku. Untuk SHGB, pastikan jangka waktu berlakunya masih lama minimal tidak lebih dari jangka waktu kredit yang akan diajukan. Untuk fisiknya jaminan tanahnya sendiri: (hampir) semua bank menginginkan jaminan yang marketable (artinya bila ada masalah kredit dan terjadi penyitaan, bank akan mudah menjual jaminan itu), untuk itu jaminan harus memiliki akses jalan (di pinggir jalan), biasanya yang masuk 2 mobil – sekitar lebar 3.5-4 meter, jaminan di lokasi strategis (bukan daerah terpencil/pinggiran yang cenderung tidak berkembang), jaminan tidak terletak di tebing/lereng/ daerah miring/daerah pemakaman/daerah rumah ibadah (misal masih satu lokasi dengan rumah ibadah), jaminan bangunan harus memiliki IMB, fisik bangunan harus baik dan kokoh. Untuk kendaraan pun demikian , penilaiannya lebih mudah. Mobil baru tinggal disesuaikan dengan data dealer, mobil bekas kondisinya harus masih prima, tahunnya masih muda, dll. Jumlah kredit yang akan diberikan bank umumnya maksimum berkisar antara 70-80% dari nilai jaminan menurut taksiran bank.

5. Pastikan anda tidak memiliki catatan cacat perbankan pada tahun berjalan (saat anda mengajukan kredit tersebut. Bank memiliki jaringan data yang online seluruh negeri, di bawah jaringan server BI. Ada 2 macam data yang dapat dicek. Pertama DHBI yakni daftar hitam yang didapatkan seorang pemiliki rekening giro apabila dia telah memberikan cek atau bilyet giro kosong melebihi batas ketentuan BI, kedua Data Kolektibilitas yang menunjukkan data kredit yang dimiliki calon debitur suatu bank, yang sudah ada. Misalnya Vidi telah memiliki kredit di Bank Jabar dengan kolektibilitas lancar, maka Vidi dapat mengajukan kembali kredit di bank lain bila memenuhi syarat. Hal pertama yang dilakukan oleh suatu officer bank dalam memeriksa pengajuan kredit adalah Cek DHBI dan Cek Kolektibilitas. Data yang dilihat adalah berdasarkan nama, no KTP/ID, dan NPWP. Apabila anda pernah masuk dalam kedua list tsb, namun pada saat anda mengajukan sudah ter-rehab, sudah beres dan lancar, maka tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan pengajuan.

6. Siapkan rekening tabungan atau giro yang mencerminkan pendapatan anda. INI PENTING. Terutama sekali untuk first impression bagi pihak bank. Saat ini bank akan lebih melihat data rekening anda dibanding data laporan keuangan atau gaji yang umumnya dapat dibuat buat. Apabila anda sebagai pengusaha mengatakan bahwa omzet anda per bulan 100juta, maka bank akan meminta keluar masuknya uang dalam rekening anda minimal 80% dari jumlah omzet anda tsb. Bank akan melihat ke jumlah transaksi per bulannya BUKAN pada saldonya. Biasanya rekening yang diminta adalah data selama tiga bulan, maka saya sarankan bila anda akan mengajukan bulan April, pastikan data jumlah transaksi pada rekening anda Januari – Maret telah mencerminkan omzet/pendapatan. Jangan ragu untuk lebih mengaktifkan mobilitas transaksi di rekening anda

7. Pilih bank dengan total servis terbaik: tingkat suku bunga yang tidak mahal (dalam satu periode, masing masing bank memiliki tingkat suku bunga kredit sendiri), bunga efektif, jenis kredit yang ditawarkan lengkap (ada bank yang hanya melayani KPR, dll) sehingga anda bisa mendapatkan kredit yang sesuai dengan kebutuhan, biaya biaya yang terkait dengan kredit yang paling bersaing (perhatikan iklan dari bank: misal bebas biaya notaris, suku bunga paling rendah, dsb, gunakan kesempatan tersebut), pilih bank yang menjanjikan proses pengajuan kredit tidak lama (waktu yang umum biasanya maksimal 2 mingguan), pilih bank yang mendapat rekomendasi bagus dari teman/partner atau relative lain terutama terkait dengan customer maintenance/ relationship, pilih bank yang teknologinya cukup canggih sehingga memudahkan anda untuk bertransaksi apa saja terkait dengan bank tersebut (bayar angsuran lewat mobile banking/otodebet, dll).

8. Ada baiknya anda mencari rekomendasi dari debitur yang telah lebih lama berhubungan baik dengan bank tersebut. Bank umumnya akan melakukan trade checking, baik itu dengan perusahaan tempat anda bekerja (untuk karyawan), dengan supplier/pesaing/ pelanggan (untuk profesional dan pengusaha). Info trade checking yang kurang baik bisa langsung menurunkan penilaian bank thd anda.

9. Gunakan fasilitas kredit sesuai dengan tujuan awal. Seringkali terjadi kemacetan kredit akibat terjadinya kesalahan pemakaian. Misalnya kredit modal kerja digunakan untuk membangun rumah, akibatnya modal kerja anda tidak bertambah, sementara dengan adanya kredit berarti anda seharusnya meningkatkan keuntungan untuk membayar kewajiban kredit, sehingga akhirnya anda tidak mampu membayar pada bank.

10. Terlepas dari semua itu, perhitungkan baik baik oleh anda bahwa dengan pemberian kredit ini akan membantu anda, bukannya justru menyulitkan anda di kemudian hari (lihat contoh perhitungan bunga). Satu hal yang harus diperhitungkan: ambil payback ability anda terkecil untuk dijadikan acuan pengajuan besarnya kredit. Satu pesan saya, dalam perjanjian kredit hampir 99.9%, posisi bank sangat terlindungi oleh hukum terkait. Sehingga bila terjadi masalah kredit, umumnya di pengadilan bank biasanya akan selalu menang. Oleh karena itu, jangan ambil kredit bank kalau anda ragu dengan kemampuan payback anda. Jangan karena tergiur besarnya uang yang diterima di awal yang cukup besar, tapi pikirkan nanti setiap bulannya anda harus membayar kewajiban pada bank.

Demikian beberapa tips dari saya, mudah mudahan bermanfaat bagi yang membutuhkan.


Apakah Usulan Investasi Anda Layak Untuk Dilaksanakan

July 3, 2013

Apakah Usulan Investasi Anda Layak Untuk Dilaksanakan

 

Oleh Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP®

Perencana Keuangan SUHA Planner – Financial Consulting

Web : www.suhaplanner.com or email : suhaplanner@yahoo.com

Dalam ilmu manajemen keuangan kita mempelajari beberapa cara analisis yang dapat memberikan gambaran kepada investor, apakah suatu usulan investasi yang ditawarkan layak untuk dilaksanakan atau tidak. Alat analisis ini menggunakan pendekatan Net Present Value (nilai bersih saat ini).

Logika dasar yang digunakan dalam analisis Net Present Value adalah membandingkan jumlah uang yang anda keluarga saat ini untuk investasi (IO) dengan jumlah nilai saat ini dari perkiraan arus kas masuk dari investasi yang akan anda lakukan (CIF), atau dapat di rumuskan sebagai berikut :

  1. Jikalau (IO > CIF), maka usulan investasi / proyek tersebut  tidak layak untuk di laksanakan, karena akan memberikan kerugian kepada anda. Atau dapat dianalogikan anda membeli barang lebih mahal daripada harganya.
  2. Namun jikalau (IO < CIF), maka usulan investasi / proyek tersebut layak untuk dilaksanakan, karena akan memberikan keuntungan kepada anda.
  3. Tetapi apabila (IO = CIF), maka usulan investasi / proyek tidak akan memberikan keuntungan dan kerugian buat anda. Oleh karena itu keputusannya tergantung kepentingan anda, misalnya untuk alasan program pemasaran dsb.

Dalam membuat perhitungan Net Present Value, anda harus terlebih dahulu menetapkan tingkat faktor diskon (i) atau boleh disamakan dengan tingkat inflasi sepanjang periode investasi. Apabila anda kurang paham dalam menetapkan tingkat inflasi ini, anda bisa mencarinya di website Biro Pusat Statistik ataupun di website Bank Indonesia atau sumber informasi lain yang dianggap credible.

Untuk lebih jelasnya berikut ini kita coba lakukan perhitungan sesuai dengan kasus seperti berikut ini :

Misalkan pada awal tahun 2013, PT. Sejahtera Makmur berencana untuk mendirikan sebuah usaha biro perjalanan wisata dengan modal usaha sebesar Rp.10 Miliar (IO). Manajemen PT. Sejahtera Makmur mengharapkan usaha ini sudah harus balik modal pada tahun ke 10. Tingkat inflasi diperkirakaan setiap tahunnya sekitar 7.00%.

Dengan tingkat inflasi sebesar 7.00%, maka faktor bunga nilai sekarang untuk period 10 tahun adalah sebagai berikut :

Tahun Faktor Bunga Nilai Sekarang (7%)
2013

   1.0000000

2014

   0.9345794

2015

   0.8734387

2016

   0.8162979

2017

   0.7628952

2018

   0.7129862

2019

   0.6663422

2020

   0.6227497

2021

   0.5820091

2022

   0.5439337

TOTAL

   7.5152322

Data dihitung dengan menggunakan rumus (1/{(1+i)^n-1}

Selanjutnya untuk mencari berapa laba bersih minimum per tahun yang harus diperoleh agar supaya perusahaan berada dalam posisi balik modal pada tahun ke 10 adalah sebagai berikut :

Nilai Investasi                                        = Rp.10,000,000,000

Faktor Bunga Nilai Sekarang            =   7.5152322

Laba Bersih Pertahun adalah            = Rp. 10 M / 7.5152322

= Rp.1,330,630,866,-

Informasi tersebut diatas, dapat memberikan gambaran kepada anda, mengenai apakah usaha yang akan dilaksanakan dapat memberikan kontribusi laba bersih pertahun sebesar Rp.1,3 M, kalau tidak berarti usaha yang anda ingin lakukan tidak layak dilaksanakan, karena IO > CIF.

Mudah bukan ? untuk itu apabila anda memiliki pertanyaan terkait dengan article ini dapat menghubungi kami di suhaplanner@yahoo.com atau 08129767143.

Selamat berinvestasi!

Semoga article ini dapat mencerahkan Anda, apabila ada hal yang ingin di tanyakan dapat melayangkan email ke : suhaplanner@yahoo.com atau telp ke 08129767143 dengan Bapak Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP.

Untuk memastikan Anda mendapatkan article terbaru dari SUHA Planner – Financial Consulting, Anda bisa mendaftarkan alamat email Anda sebagai follower kami di menu yang tertera dalam website kami.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 688 other followers