Jangan Terkesima Return Yang Tinggi

Jangan Terkesima Return Yang Tinggi

Jangan Terkesima Return Yang Tinggi

September 16, 2008

Setiap akhir tahun para manajer investasi (MI) akan mengusahakan agar portofolionya menghasilkan tingkat pengembalian ( return ) setidaknya mencapai target yang sudah ditetapkan, syukur jika returnnya bisa melebihi target atau menjadi “juara” dengan mengalahkan return para pesaingnya. Umumnya dengan return yang tinggi, lebih mudah menjual jasa pengelolaan investasi atau reksadana dikemudian hari. Investorpun pada umumnya senang dengan return yang tinggi sehingga terkadang melupakan resiko investasi atau lebih parah lagi tidak mengetahui bahwa resiko harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi. Berdasar pengalaman penulis, ketidaktahuan investor amat wajar mengingat investor institusi pun banyak yang belum mempertimbangkan faktor resiko dengan seksama.

Sebelum kita berbicara lebih jauh, apa sebetulnya yang dimaksud dengan resiko investasi ? Dalam berinvestasi kita tentunya mempunyai harapan berapa return yang kita inginkan untuk periode waktu tertentu yang disebut expected return. Namun kenyataannya setelah periode tersebut, actual return atau return yang sesungguhnya kita terima belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan, bisa lebih besar bisa pula lebih kecil. Melencengnya actual return terhadap expected return inilah yang disebut resiko. Makin besar melenceng maka makin besar pula resikonya. Dalam statistik resiko ini diukur dengan standard deviasi.

Berikut ini ilustrasi sederhana dengan mengambil contoh investasi pada reksadana, namun kegunaan atau penerapannya tidak terbatas pada investasi reksadana saja tetapi berlaku untuk semua investasi seperti pemilihan saham / obligasi yang anda lakukan sendiri. Tujuan dari ilustrasi ini adalah menjelaskan mengapa kita perlu memperhatikan resiko disamping melihat return.

Apabila anda mempunyai dana lebih untuk investasi misalkan pada reksadana, tentunya anda dihadapkan pada banyak pilihan reksadana yang dikelola oleh berbagai manajer investasi. Langkah pertama yang umumnya dilakukan investor adalah melihat daftar Nilai Aktiva Bersih ( NAB ) per Unit Pernyertaan (UP) atau semacam “harga” reksadana yang diterbitkan di koran setiap hari. Pada daftar tersebut tercantum juga return 30 hari terakhir dan return 1 tahun terakhir. Secara logis anda akan tertarik pada reksadana yang memberikan return tertinggi atau dalam kisaran tertinggi, misalkan 5 reksadana return tertinggi. Nah, dari situlah anda memilih mana yang terbaik atau sesuai dengan tujuan investasi anda.

Sebetulnya langkah tersebut tidak salah, namun belum lengkap bila anda tidak memperhatikan resiko. Misalkan anda mengamati ada 2 manajer investasi yang mengelola reksadana A dan B yang mana manajer investasi A menghasilkan return rata-rata 20% per tahun selama lima tahun terakhir dan kita percaya tahun depan kinerjanya masih konsisten seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain itu ada pilihan manajer investasi B yang menghasilkan return rata-rata 15% per tahun selama lima tahun terakhir dan kita juga percaya tahun depan kinerjanya masih konsisten seperti sebelumnya. Pertanyaannya manajer investasi manakah yang anda inginkan untuk mengelola uang anda selama setahun kedepan ?

Bila kita melihat hanya return saja maka tampaknya pertanyaan diatas seperti pertanyaan bodoh. Namun sebetulnya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan kritis yang perlu ditelaah lebih lanjut. Caranya dengan melihat kinerja historis dari tahun ketahun untuk kedua manajer investasi tersebut. Manajer investasi A mempunyai kinerja dalam lima tahun terakhir seperti tabel 1 :

Tahun Manajer Investasi A
1 40%
2 50%
3 -20%
4 60%
5 30%

Tampak bahwa kinerja manajer investasi A berfluktuasi. Pada tahun pertama dana kelolaannya naik 40% dan tahun kedua naik 50% selanjutnya turun 20% namun tahun keempat naik 60%, kemudian tahun kelima turun 30%. Secara keseluruhan rata-rata kinerja manajer investasi A adalah 20% ( jumlahkan kinerja lima tahun tersebut dan bagilah dengan 5 ).

Sedangkan manajer investasi B yang mempunyai kinerja rata-rata 15% dengan catatan prestasi seperti tabel 2.

Tahun Manajer Investasi B
1 15%
2 15%
3 15%
4 15%
5 15%

Tampak disini manajer investasi B lebih konsisten kinerjanya. Namun tetap saja return-nya dibawah return manajer investasi A. Kalau begini keadaannya apakah salah, bila investor memilih manajer investasi A ? Bukankah manajer investasi A menghasilkan uang yang lebih banyak ?

Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dihitung berapa uang yang bisa dihasilkan masing-masing manajer investasi dengan cara mengasumsikan uang sebesar masing-masing Rp. 100 sebagai modal awal yang dikelola oleh kedua manajer investasi tersebut. Dana awal Rp. 100 ditahun pertama dikelola manajer investasi A akan menjadi Rp. 140 ( = Rp. 100 x 1.40) sedangkan dengan manajer investasi B dana awal Rp. 100 menjadi Rp. 115 ( = Rp. 100 x 1.15 ). Pada tahun kedua, dana kelolaan sebesar Rp. 140 di manajer investasi A naik 50% menjadi Rp. 210 ( = Rp. 140 x 1.50 ) sedangkan dana kelolaan manajer investasi B pada tahun kedua naik 15% menjadi Rp. 132.3 ( = Rp. 115 x 1.15 ) . Demikian seterusnya kita selesaikan perhitungan hingga akhir tahun kelima. Hasil dari pengelolaan kedua manajer investasi disajikan pada tabel berikut :

Tahun Manajer A Hasil Pengelolaan A Manajer B Hasil Pengelolaan B
1 40% Rp. 140.0 15% Rp. 115.0
2 50% Rp. 210.0 15% Rp. 132.3
3 -20% Rp. 168.0 15% Rp. 152.1
4 60% Rp. 268.8 15% Rp. 174.9
5 30% Rp. 188.2 15% Rp. 201.1

Tampak disini hasil kelolaan manajer investasi B ( Rp. 201.1 ) lebih tinggi dibanding manajer investasi A ( Rp. 188.2 ). Dengan demikian investor seharusnya memilih manajer investasi B yang sekilas tampak “hanya” memberikan return 15% saja.

Dari sini kita bisa menarik paling tidak tiga pelajaran yaitu :

  1. untuk menghitung return, gunakanlah geometric return yang mengukur berapa Rp. yang dihasilkan. Jangan menggunakan arithmetic return atau rata-rata return tahunan. Bila kita menghitung return manajer investasi A dengan geometric return maka hasilnya adalah 13.48% yang didapat dari rumus [((1+r1)*(1+r2)*(1+r3)*(1+r4) .*(1+rn))^(1/n)]-1 . Atau dengan kata lain bila dana awal Rp. 100 dikelola oleh manajer investasi A selama lima tahun dengan return konsisten sebesar 13.48% maka pada akhir tahun kelima hasilnya adalah Rp. 188.2 seperti terlihat di tabel. Singkat kata return sebenarnya bukan 20% seperti yang dia klaim,
  2. selain perhitungan return, perhatikan resiko yang dinyatakan dari konsistensi return. Semakin konsisten kinerjanya semakin kecil resikonya. Apa jadinya bila investor menginvestasikan dana misalnya pada awal tahun kelima, investor tersebut akan kehilangan 30% dananya. Dengan manajer investasi yang volatil kinerjanya kita tidak tahu kapan saat yang menguntungkan untuk berinvestasi,
  3. sebelum memilih manajer investasi, asumsikan hal terburuk yang bisa terjadi dengan berinvestasi pada tahun terburuk dan lihat apakah kita sanggup menerima resiko sebesar itu.

Masih banyak lagi yang harus diperhatikan selain faktor resiko dan return seperti siapa tim manajer investasi, bagaimana pengambilan suatu keputusan investasi, bagaimana kredibilitas perusahaan / grup afiliasinya, kebijakan investasinya, peraturan perpajakan dan masih banyak lagi informasi yang bisa digali dari prospectus, company profile dan laporan tahunan ( annual report ). Namun dengan memperhatikan return dan resiko setidaknya kita bisa menghindari potensi kerugian apabila ada manajer investasi atau agen penjual yang menyembunyikan kinerjanya dibalik return yang ” tinggi “.

Oleh : Parto Kawito – Pengamat Pasar Modal

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s