Banking

Article mengenai produk perbankan dan tips mendapatkan kredit dari perbankan

Perbedaan Tabungan dengan Investasi

Perbedaan Tabungan dengan Investasi

PERBEDAAN TABUNGAN vs INVESTASI

Oleh Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP

Perencana Keuangan – www.suhaplanner.com

Tabungan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tabungan yang diselenggarakan oleh Bank Umum. Sesuai dengan aturan yang berlaku, pemengan rekening tabungan harus memiliki kartu identitas. Bertolak dari peraturan ini, dapat disimpulkan bahwa pemegang rekening tabungan adalah orang dewasa.

Bagi bank sebagai penyelenggara tabungan, produk tabungan adalah sumber modal dana murah. Karena setiap dana yang dihimpun dalam rekening tabungan hanya diberikan bunga tidak lebih dari 2% per tahun atau 0.17% per bulan. Sementara uang tersebut ketika disalurkan kepada debitur dalam bentuk kredit, tingkat bunga yang akan dikenakan pasti diatas 12% per tahun. Artinya dari hitungan kasar tersebut sudah kelihatan bagaimana profit yang diperoleh oleh bank dari bisnis simpan pinjam ini.

Untuk menggenjot kesetabilan jumlah dana pihak ketiga dalam rekening tabungan, pihak bank banyak melakukan program tabungan berhadiah dengan hadiah yang super pantastis, mulai dari gadget teranyar, Uang Tunai, Sepeda Motor dan bahkan Mobil Mewah sekelas Mercy dan BMW pun sering dijadikan sebagai hadiahnya. Dengan harapan mendapatkan hadiah undian, nasabah pemilik rekening tabungan berlomba-lomba menaikkan saldo tabungan untuk meningkatkan probabilitas memenangkan hadiah. Tetapi tetap saja namanya undian, bisa menang dan bisa gigit jari alias kalah, sementara itu bank tetap menikmati empuknya dana murah nasabah dari tabungan.

Dari sisi perencana keuangan, jumlah uang dalam tabungan hanya disarankan untuk menutupi biaya hidup dan biaya emergency, sisanya disarankan untuk di investasikan dalam instrument yang dapat memberikan imbal hasil lebih tinggi. Dengan cara yang demikian, tingkat pertumbuhan asset akan semakin cepat dibandingkan seluruh uang yang dimiliki di simpan dalam rekening tabungan.

Sebagai contoh, Keluarga Tn. Abdul adalah keluarga dengan 2 orang anak dan memiliki biaya hidup dalam sebulan kira2 Rp.5,000,000. Dengan mengetahui jumlah biaya bulanan tersebut, berarti jumlah dana emergency keluarga ini adalah minimal Rp.30,000,000 atau 6 x kebutuhan bulanan.

Diibaratkan Tn. Abdul memiliki rekening tabung dengan saldo sebesar Rp.75,000,000, tabungan ini dibiarkan terus bertambah tanpa dipindahkan ke instrument investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, misalnya seperti Deposito. Tingkat suku bungan tabungan 2% per tahun dan tingkat suku bunga deposito 5% per tahun.

Dari contoh tersebut diatas, kita dapat menghitung opportunity loss Tn. Abdul karena tidak menyisihkan sebagian uang dalam rekening tabungan kepada Deposito. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat perbandingan berikut ini:

 

Alternatif Pertama

Tetap disimpan dalam tabungan

Penghasilan bunga tabungan à Rp.75 juta x 2%                               = Rp.1,500,000

 

Alternatif Kedua

Selisih Saldo dengan Dana Emergency disimpan dalam Deposito

Penghasilan bunga Tabungan à Rp.30 juta x 2 % = Rp.600,000

Penghasilan bunga Deposito à Rp.45 juta x 5% = Rp.2,250,000

Total Penghasilan bunga                                                                     = Rp.2,850,000

Opportunity Loss Tn. Abdul                                                              = Rp.1,350,000

 

Bisa Anda bayangkan, bilamana kejadian ini berlangsung dalam tempo 5 tahun berturut-turut, artinya total kerugian yang dialami oleh Tn. Abdul adalah lebih besar dari Rp.6,750,000.

 

Investasi.

Investasi adalah membeli asset dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga (capital gain) dan imbalan bunga lainnya. Karena yang diharapkan itu adalah capital gain yang timbul dari akibat adanya pergerakan harga, maka investasi menjadi sangat berisiko dibandingkan dengan produk tabungan.

Pergerakan harga mengindikasikan bahwa ada mekanisme pasar yang berproses, artinya kalau pasar membaca ada keterbatasan supply atas asset yang Anda pegang maka dengan sendirinya nilai jual asset Anda akan meningkat. Tetapi sebaliknya juga bisa terjadi, dimana ketika pasar melihat bahwa supply atas asset yang Anda miliki berlebih atau dengan kata lain lebih besar penawaran darapada permintaan, dengan sendirinya nilai asset Anda akan tergerus turun. Inilah yang disebut dengan risiko pasar (systematic risk), kita tidak bisa mendikte pasar oleh karena itu kita harus menyesuaikan dengan kondisi pasar.

Selanjutnya, asset itu sendiri juga memiliki risiko yang sangat identik dengan dirinya atau dikenal dengan unsystematic risk. Sebagai contoh ketika Anda memiliki asset property, dimana pada awalnya tidak pernah terjadi banjir, tetapi karena kualitas tanggul yang ada di sekitar property Anda melemah, maka setiap terjadi hujan lebat, air sungai pasti akan masuk kedalam property Anda.

Dengan kondisi tersebut diatas, misalkan pada saat Anda membeli property tersebut harganya Rp.100 juta, apakah Anda yakin bahwa dengan kondisi yang sering banjir tersebut nilai asset Anda sekarang masih Rp.100 juta. Dalam kondisi normal hampir dapat dipastikan hal itu tidak akan terjadi, artinya investasi anda bukannya mendapatkan gain atau keuntungan tetapi malah mendapatkan kerugian.

Penjelasan dua contoh diatas mengajarkan kepada kita bahwa untuk berinvestasi hendaklah pelajari, ketahui risikonya dan kalau memang sudah mampu menanggung risiko yang akan terjadi dan menganggap imbal hasilnya juga akan tinggi, berarti investasi boleh dilanjutkan. Tetapi kalau tidak kuat menanggung risiko yang kemungkinan besar terjadi, sebaiknya rencana investasi dibatalkan atau dialihkan kepada instrument lain. Pertimbangan yang demikian tidak akan ditemukan dalam produk tabungan, karena imbal hasil sudah ditetapkan didepan dan pasti akan dibayar pada saat jatuh tempo.

Mengingat pada umumnya investasi itu membutuhkan dana yang relative lebih besar dibandingkan menabung di bank, sangat disarankan untuk mengumpulkan dana terlebih dahulu dalam rekening tabungan khusus untuk menghindari penggunaan diluar yang direncanakan. Selanjutnya setelah jumlahnya mencukupi jumlah minimum yang dipersyaratkan untuk instrument investasi yang diinginkan, baru dipindahkan kedalam instrument tersebut, ini hanya sebagai contoh, karena hal ini harus disesuaikan dengan kondisi keuangan Anda.

 

Tabungan Vs Investasi.

Setelah mehamami secara singkat mengenai karakteristik dari Tabungan dan Investasi, dapat disarikan bahwa perbedaan dan persamaan kedua instrument tersebut adalah kurang lebih sebagai berikut.

Tabel : 1

Perbandingan Tabungan dengan Investasi

Kriteria

Tabungan

Investasi

Keterangan

Risiko Hampir Tidak Ada Ada Risiko investasi tidak terbatas
Imbal hasil (Return) Pasti Tetapi Kecil Sekali Tidak Pasti dan kemungkinan imbal hasilnya lebih besar dari tabungan Ada trade of antara risk and return
Penjamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Tidak Ada  
Regulator dan Pengawas Bank Indonesia & Otoritas Jasa Keuangan Otoritas Jasa Keuangan  
Minimum Setoran
  • Rp.10,000
  • Rp.100,000
Reksadana
Jangka Waktu Tidak dibatasi Dibatasi sesuai dengan Term & Condition  
Point of Service Tersebar, Kantor Cabang dan Cabang Pembantu Bank Terkonsentrasi ditempat tertentu  

 

Semoga article ini dapat mencerahkan Anda, apabila ada hal yang ingin di tanyakan dapat melayangkan email ke : suhaplanner@yahoo.com atau telp ke 08129767143 dengan Bapak Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP.

Untuk memastikan Anda mendapatkan article terbaru dari SUHA Planner – Financial Consulting, Anda bisa mendaftarkan alamat email Anda sebagai follower kami di menu yang tertera dalam website kami.

Perbedaan Bunga Anuitas dengan Bunga Tetap (Flat)

Perbedaan Bunga Kredit Anuitas VS Bunga Kredit Flat

Perbedaan Bunga Kredit Anuitas (Annuity)

dengan  Bunga Kredit Tetap (Flat)

Oleh : Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP®

Perencana Keuangan –  www.suhaplanner.com

Saya yakin Anda pasti pernah mendengar keluhan teman atau saudara Anda yang kebetulan menjadi nasabah peminjam (debitur) sebuah bank atau lembaga pembiayaan. Keluhan yang umum pasti tidak jauh dari kasus seperti berikut ini :

  1. Bunga yang dibebankan oleh bank ternyata lebih besar daripada yang dipahami oleh Debitur.
  2. Jumlah cicilan bulanan kredit tiba-tiba meningkat tanpa ada pemberitahuan.

Untuk bisa menjelaskan dan menjawab keluhan dari debitur tersebut diatas, langkah pertama yang Anda harus lakukan adalah mempelajari isi Surat Perjanjian Pinjaman terlebih dahulu. Klausul penting yang Anda harus perhatikan dalam Surat Pernjanjian tersebut adalah klausul atau pasal yang mengatur tata cara penghitungan beban bunga. Dalam sistem perbankan dan pembiayaan dikenal tiga sistem penghitungan beban bunga yaitu Sistem Bunga Anuitas, Bunga Efektif dan Bunga Tetap (Flat).

Selain tata cara penghitungan beban bunga, pasal lain yang perlu Anda perhatikan adalah pasal mengenai tingkat suku bunga yang akan dibebankan. Sebagaimana diketahui bahwa tingkat suku bunga kredit pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Negara secara umum. Oleh karena itu apabila kondisi ekonomi suatu Negara berjalan dengan baik dan tidak ada goncangan yang sangat menggangu, biasanya tingkat suku bunga kredit di Negara tersebut akan tetap berada pada level yang sama untuk jangka waktu diatas satu tahun. Sebaliknya kalau kondisi ekonomi lagi tidak baik maka tingkat suku bunga akan berfluktuatif mengikuti kondisi ekonomi. Kejadian bunga berfluktuatif ini adalah efek negatif dari turunya kepercayaan investor terhadap pasar, akibatnya timbul ketidak pastian dalam pasar. Kompensasi ketidak pastian inilah yang mengakibatkan tingkat suku bunga kredit berfluktuatif dan cenderung meningkat.

Untuk mempersingkat cerita, marilah kita bahas keluhan dari debitur tersebut diatas satu persatu.

 

 

 

 

 

A. Bunga Yang Dibebankan Ternyata Lebih Besar Daripada Yang Dipahami Oleh Debitur.

Asal mula dari permasalahan ini hampir dapat dipastikan akibat salah persepsi, dimana pihak debitur hanya berpatokan kepada tingkat suku bunga yang akan dibebankan tanpa mengerti bagaimana tingkat suku bunga tersebut diaplikasikan untuk menghitung beban bunga yang akan dibayar kelak.

Padahal perbedaan metode penghitungan beban bunga adalah merupakan masalah serius khususnya kepada Anda calon Debitur. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan contoh kasus berikut ini.

Tn Adul seorang pengusaha Kusen di daerah Bekasi berencana untuk meningkatkan omset usaha dengan cara menambah modal kerja. Untuk kepentingan tersebut Tn Adul menyampaikan niatnya ini kepada rekannya yang sudah terlebih dahulu mendapatkan kredit modal kerja dari sebuah bank. Informasi yang dapat diperoleh Tn Adul dari hasil pembicaraan dengan rekannya tersebut adalah pinjaman sebesar Rp.10 juta, dengan tempo 1 tahun, tingkat suku bunga 12%, cicilan per bulan adalah Rp.888,488.  Sementara informasi mengenai metode penghitungan beban bunga tidak dibicarakan sama sekali, karena mereka sebenarnya tidak terlalu paham dengan istilah dan cara-cara tersebut.

Berbekal informasi tersebut diatas, Tn Adul mempersiapkan dokumen yang diperlukan dan membuat surat pengajuan kredit modal kerja kepada sebuah bank yang kebetulan kantornya dekat dengan tempat usaha Tn Adul. Singkat cerita pengajuan kredit dari Tn. Adul sebesar Rp.10 juta disetujui oleh bank dengan tingkat suku bunga 12% dengan tempo 1 tahun dan menggunakan metode bunga tetap (flat rate) untuk penghitungan beban bunganya. Besarnya cicilan per bulan adalah sebesar Rp.933,333 bukan Rp.888,488 seperti yang dikenakan kepada rekan Tn Abdul.

Tn Adul terkejut, kenapa jumlah cicilan antara saya dengan rekan saya berbeda?, padahal jumlah uang kami pinjam sama besarnya yaitu Rp.10 juta dan tingkat suku bunga yang dibebankan juga sama yaitu sama-sama 12%. Ternyata setelah ditelusuri klausul/pasal dalam perjanjian kredit Tn Adul adan rekannya, ketahuan perbedaannya terletak pada metode penghitungan beban bunga. Kredit rekan Tn. Adul menggunakan metode anuitas (annuity rate) sementara kredit Tn Adul menggunakan metode bunga tetap (flat rate).

Untuk lebih jelas mengenai permasalahan ini Anda dapat membandingkan antara dua table dibawah ini, dimana Tabel-1 menggunakan sistem bunga anuitas (annuity rate) dan Tabel-2 menggunakan sistem bunga tetap (flat rate).

 

 

Tabel – 1

Daftar Cicilan Pinjaman – Metode Bunga Annuitas (Annuity Rate)

Bulan

Saldo Akhir

Cicilan

Pokok

Bunga

Saldo Awal

   10,000,000.00

          1.00

        10,000,000.00

$888,487.89

         788,487.89

       100,000.00

     9,211,512.11

          2.00

          9,211,512.11

$888,487.89

         796,372.77

         92,115.12

     8,415,139.35

          3.00

          8,415,139.35

$888,487.89

         804,336.49

         84,151.39

     7,610,802.85

          4.00

          7,610,802.85

$888,487.89

         812,379.86

         76,108.03

     6,798,423.00

          5.00

          6,798,423.00

$888,487.89

         820,503.66

         67,984.23

     5,977,919.34

          6.00

          5,977,919.34

$888,487.89

         828,708.69

         59,779.19

     5,149,210.65

          7.00

          5,149,210.65

$888,487.89

         836,995.78

         51,492.11

     4,312,214.87

          8.00

          4,312,214.87

$888,487.89

         845,365.74

         43,122.15

     3,466,849.13

          9.00

          3,466,849.13

$888,487.89

         853,819.40

         34,668.49

     2,613,029.73

        10.00

          2,613,029.73

$888,487.89

         862,357.59

         26,130.30

     1,750,672.14

        11.00

          1,750,672.14

$888,487.89

         870,981.17

         17,506.72

         879,690.98

        12.00

              879,690.98

$888,487.89

         879,690.98

           8,796.91

                      0.00

 TOTAL

   10,000,000.00

       661,854.64

Catatan : Pinjaman Rp.10 juta, tingkat suku bunga 12 %, periode cicilan 1 tahun,


Tabel – 2

Daftar Cicilan Pinjaman – Metode Bunga Tetap (Flat Rate)

Bulan

Saldo Akhir

Cicilan

Pokok

Bunga

Saldo Awal

10,000,000.00

        1.00

      10,000,000.00

            933,333.33

       833,333.33

     100,000.00

 9,166,666.67

          2.00

          9,166,666.67

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     8,333,333.33

          3.00

          8,333,333.33

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     7,500,000.00

          4.00

          7,500,000.00

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     6,666,666.67

          5.00

          6,666,666.67

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     5,833,333.33

          6.00

          5,833,333.33

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     5,000,000.00

          7.00

          5,000,000.00

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     4,166,666.67

          8.00

          4,166,666.67

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     3,333,333.33

          9.00

          3,333,333.33

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     2,500,000.00

        10.00

          2,500,000.00

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

     1,666,666.67

        11.00

          1,666,666.67

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

         833,333.33

        12.00

              833,333.33

              933,333.33

         833,333.33

       100,000.00

                           –

 TOTAL

   10,000,000.00

   1,200,000.00

Catatan : Pinjaman Rp.10 juta, tingkat suku bunga 12 %, periode cicilan 1 tahun,

Apabila Anda bandingkan kedua table tersebut diatas, Anda akan menemukan bahwa dengan tingkat suku bunga yang sama yaitu 12%, beban bunga yang akan ditanggung oleh Debitur dengan sistem bunga tetap akan lebih besar 80% (selesih lebih besar Rp.538,146) dibandingkan dengan Debitur yang menggunakan sistem bunga anuitas, besar bukan bedanya!

Melihat kejadian sebagaimana diilustrasikan diatas, hendaknya ketika Anda mengajukan kredit kepada bank atau lembaga keuangan, tolong perhatikan metode penghitungan beban bunga yang akan diaplikasikan. Karena belum tentu tingkat bunga yang kecil otomatis jumlah cicilannya akan lebih kecil dibandingkan dengan tingkat suku bunga yang lebih besar.

 

Sebagai tambahan perbandingan tingkat bunga tetap (flat rate) sebesar 10%, 1 tahun cicilan akan sama biayanya dengan tingkat suku bunga anuitas sebesar 17%, 1 tahun cicilan, jauh bukan bedanya!.

 

B. Jumlah Cicilan Tiba-tiba Meningkat Tanpa Ada Pemberitahuan.

Untuk menjelaskan permasalahan ini saya coba bawa Anda kepada sebuah iklan dari salah satu bank di Indonesia, iklannya kira-kira seperti berikut ini :

“Wujudkan Mimpi Anda Untuk Memiliki Rumah Idaman Melalui Program Kredit Griya KPR++, Bunga 8.00 % Untuk 1 Tahun Pertama, Minimum Jangka Waktu Kredit 8 Tahun”

Kalau Anda perhatikan pesan daripada iklan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat suku bunga 8% hanya akan berlaku untuk periode 1 tahun pertama. Adapun untuk sisa tahun berikutnya akan berlaku tingkat suku bunga pasar yang berlaku atau disesuaikan dengan kondisi pasar. Oleh karena itu, apabila kondisi pasar sedang bergejolak, yang ditandai dengan tingginya tingat tingkat inflasi, hampir dapat dipastikan tingkat suku bunga kredit Anda akan melejit naik cepat.

Sebaliknya, bilamana kondisi ekonomi membaik kembali, tingkat suku bunga juga akan turun mengikuti kondisi pasar (harusnya), namun hal ini jarang terjadi karena bank biasanya baru akan menyesuaikan atau menurunkan bunga apabila ada pengajuan dari Debitur.

Kembali kepada pertanyaan 2 diatas “Kok..tiba-tiba cicilan kredit saya naik” jawabannya adalah karena terjadi peningkatan bunga pasar, oleh karena itu bank menyesuaikan peningkatan bunga tersebut. Hal ini bisa dilakukan secara sepihak oleh bank karena dalam klausul perjanjian, Debitur sudah membolehkan bank untuk menyesuaikan tingkat suku bunga kredit setelah melewati batas yang diperjanjikan.

Hal yang demikian tidak akan terjadi dalam transaksi kredit atau pembiayaan dengan sistem bank syariah. Karena dalam praktek bank syariah, Debitur dan Bank adalah mitra yang sejajar, oleh karena itu setiap perubahan klausul dalam perjanjian harus sama-sama disetujui kedua belah pihak.

Disamping itu, dalam transaksi bank syariah, kredit atau dalam bank syariah dikenal dengan istilah pembiayaan dilakukan dengan sistem jual beli. Ketika akad jual beli disepakati kedua belah pihak, harga atas objek yang dibiayai sudah ditetapkan oleh kedua belah pihak. Harga jual yang disepakati tersebut sudah mengandung keuntungan atau margin yang akan menjadi keuntungan bank. Adapun proses membayar secara cicilan tersebut adalah merupakan salah satu metode cara pelunasan dan ini tidak dibertentangan dengan prinsip syariah.

 

Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas selanjutnya dapat disimpulkan perbedaan antara Sistem Bunga Kredit Anuitas dengan Sistem Bunga Tetap (Flat Rate) adalah sebagai berikut:

Tabel-3

Perbedaan dan Persamaan Antara

Sistem Bunga Anuitas Dengan Bunga Tetap (Flat)

No

Uraian

Bunga Anuitas

Bunga Tetap (Flat)

Keterangan

1

Dasar pengenaan beban bunga. Dari saldo akhir setiap bulan. Tetap dari jumlah kredit yang diterima o/ debitur. Perbedaan

2

Bersarnya jumlah cicilan/ pembayaran per bulan Jumlanya sama Jumlahnya sama Persamaan

3

Komponen pembayaran pokok pinjaman setiap bulan. Jumlahnya berbeda, semakin lama, porsi pembayaran pokok pinjaman semakin besar. Jumlahnya sama, karena besarnya cicilan/pembyrn pokok pinjaman, merupakan hasil rata-rata antara jumlah kredit yang diterima dengan periode masa cicilan. Perbedaan

3

Komponen pembayaran bunga pinjaman setiap bulanan. Jumlahnya akan berbeda: cicilan bunga periode 1 > dari cicilan bunga ke 2, dst Jumlahnya sama, karena penghitungan bunga tetap dari jumlah kredit yang diterima. Perbedaan

4

Keadilan (fairness) Adil, karena bunga pinjaman dihitung dari saldo akhir pinjaman. Tidak adil, karena pokok pinjaman yang sudah dibayar debitur tidak dipertimbangkan. Perbedaan

 

C. Kesimpulan dan Saran untuk Anda pembaca.

  1. Sebelum menyetujui perjanjian kredit, hendaknya baca dan pelajari klausul yang ada, sehingga Anda mengerti dan paham apa yang menjadi hak dan kewajiban Anda sebagai Debitur.
  2. Tingkat suku bunga yang kecil belum tentu cicilannya lebih kecil dari tingkat suku bunga kredit yang lebih besar. Faktor yang sangat menentukan adalah metode atau sistem penghitungan beban bunga. Ingat contoh kasus di atas, perbedaannya kurang lebih 80%, apakah Anda mau diperbudak kredit?
  3. Untuk memastikan Anda membayar beban bunga sesuai kondisi pasar dan fair, jadikan metode penghitungan bunga anuitas sebagai acuan Anda. Buatlah perhitungan bunga dengan metode Anuitas dengan jumlah cicilan yang sama dengan metode penghitungan bunga tetap atau flat yang ditawarkan oleh bank atau lembaga keuangan. Apabila tingkat suku bunganya dalam range kondisi bunga pasar, berarti Anda diperlakukan secara adil oleh kreditur Anda, kalau tidak coba Anda tawar, mereka pasti akan mempertimbangkannya. Tips praktis yang Anda bisa gunakan adalah menggunakan fasilitas What-If-Analysis dalam excel Anda.
  4. Jikalau Anda tidak memiliki kemampuan untuk membuat analisis seperti tersebut diatas, saya sarankan Anda untuk menemui Konsultan Perencana Keuangan yang terdekat dengan Anda. Anda dapat menanyakan berbagai hal seputar masalah keuangan dan investasi atau Anda bisa datang ke tempat kami www.suhaplanner.com.

 

Demikian dan semoga bermanfaat buat Anda.

 

Semoga article ini dapat mencerahkan Anda, apabila ada hal yang ingin di tanyakan dapat melayangkan email ke : suhaplanner@yahoo.com atau telp ke 08129767143 dengan Bapak Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP.

Untuk memastikan Anda mendapatkan article terbaru dari SUHA Planner – Financial Consulting, Anda bisa mendaftarkan alamat email Anda sebagai follower kami di menu yang tertera dalam website kami.