Perencanaan Dana Pendidikan

Article mengenai pengelolaan dana pendidikan

8 Langkah Pengelolaan Keuangan Keluarga

8 Langkah Pengelolaan Keuangan Keluarga

Oleh Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP®
Perencana Keuangan di www.suhaplanner.com

A. Pengantar

Pengelolaan Keuangan Keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan tingkat Kemakmuran Ekonomi sebuah keluarga. Pengelolaan keuangan yang dimaksud dalam hal ini adalah Perencanaan Keuangan, Dalam sebuah perencanaan keuangan yang baik akan terdapat daftar pemasukan dan pengeluaran uang secara terperinci. Dengan adanya daftar yang terperinci, Anda sebagai manager keuangan keluarga akan dapat mendeteksi setiap terjadi penyimpangan rencana keuangan.

Penyebab utama terjadinya penyimpangan perencanaan keuangan adalah kelemahan dalam membedakan antara “Kebutuhan dan Keinginan”. Pengeluaran uang untuk “Kebutuhan” sifatnya wajib karena terkait langsung dengan kebutuhan pokok Anda, sementara pengeluaran uang untuk “Keinginan” sifatnya tidak wajib sehingga hanya akan dikeluarkan pada saat-saat tertentu. Kalau Anda disiplin dalam menjalankan prinsip tersebut diatas, sangat tinggi kemungkinan kondisi keuangan Anda akan lebih baik dari sebelumnya.

Secara garis besar, Arus Kas keuangan keluarga terdiri dari dua bagian besar yaitu Arus Kas Masuk (AKM) dan Arus Kas Keluar (AKK). Arus kas masuk berasal dari penerimaan keluarga misalnya dari gaji, upah, hasil usaha sendiri dan penerimaan lainnya. Sedangkan arus kas keluar adalah pengeluaran uang untuk membayar kebutuhan dasar dan kebutuhan lainnya. Kebutuhan dasar terkait langsung dengan keberlangsungan hidup sebuah keluarga misalnya untuk kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sementara kebutuhan diluar itu disebut dengan kebutuhan lain (keinginan) dan sifatnya pengeluaran ini tidak wajib, misalnya keinginan untuk mengganti handphone biasa menjadi smartphone yang harganya lebih mahal, ini merupakan keinginan karena kalau kebutuhan untuk telekomunikasi sudah bisa menggunakan handphone biasa bukan?.

Apabila sisi penerimaan lebih besar daripada sisi pengeluran, kondisi ini disebut dengan positif atau surplus, selanjutnya apabila sisi penerimaan lebih kecil daripada sisi pengeluaran, kondisi ini disebut dengan minus atau shortage.

Kondisi keuangan yang diharapkan adalah kondisi yang positif atau surplus, karena dengan kondisi yang demikian Anda akan memiliki kemampuan untuk melakukan saving dan investasi untuk mengantisipasi kebutuhan keuangan dimasa yang akan datang. Karena kalau kondisi keuangan Anda negative, artinya untuk menutupi kebutuhan dasar saja Anda memerlukan tambahan income bukan..?

B. Langkah-Langkah Pengelolaan Keuangan Keluarga.

Untuk mencapai tujuan, Anda harus melewati jalan menuju titik tujuan. Jalan yang harus dilewati kadang mendatar, kadang menurun dan kadang mendaki. Untuk bisa melewati jalan yang naik dan turun dibutuhkan kondisi badan yang fit, sehingga Anda tetap semangat melewati jalan yang terjal sekalipun.

Ilustrasi ini sama halnya dengan pengelolaan keuangan, dimana untuk mencapai tujuan keuangan yang Anda telah tetapkan, Anda harus mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko yang siap menghadang. Tetapi dengan adanya usaha yang tekun dan disiplin yang kuat ditambah doa kepada Allah SWT,  Insya Allah tujuan akan dapat dicapai dengan baik.

Langkah Pertama (1)

Membuat daftar pengeluaran Anda setiap bulan baik itu pengeluaran rutin dan non-rutin. Setelah memiliki daftar pengeluaran setiap bulannya, selanjutnya Anda harus mengelompokkan seluruh pengeluaran tersebut kedalam dua kelompok besar yaitu pengeluran untuk Kebutuhan dan pengeluran untuk Keinginan.

Setelah memiliki dua kelompok besar pengeluaran, selanjutnya masing-masing pengeluaran tersebut disisir untuk dikelompokkon menjadi dua bagian yaitu rutin dan non-rutin. Sehingga dari hasil ini Anda akan memiliki 4 daftar pengeluaran yaitu Kebutuhan Rutin dan Kebutuhan Non-Rutin, Keinginan Rutin dan Keinginan Non-Rutin.

Langkah Kedua (2)

Membahas empat kelompok pengeluaran tersebut dengan Suami atau Istri Anda (pasangan), dalam pembahasan ini yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui apakah item atau pos pengeluaran yang telah ditulis tersebut sudah lengkap atau belum…?. Kalau memang sudah lengkap, selanjutnya yang Anda dan pasangan harus lakukan adalah menetapkan apakah sebuah pos pengeluaran tersebut perlu atau tidak…? kalau perlu berarti tetap dalam daftar, selanjutnya kalau tidak perlu dibuang dari daftar, proses ini dilanjutkan untuk semua pos pengeluaran.

Hasil saringan pertama tersebut diatas, disaring lagi menjadi dua kelompok yaitu pengeluaran rutin dan pengeluaran non-rutin..? Untuk pengeluaran rutin biasanya akan menjadi kebutuhan pokok, selanjutnya untuk pengeluaran non-rutin bisa menjadi kebutuhan pokok dan bisa juga menjadi keinginan.

Proses tersebut diatas akan menghasilkan empat kelompok pengeluaran yaitu sebagai berikut:

–                 Pengeluaran kebutuhan pokok rutin

–                 Pengeluaran kebutuhan pokok non-rutin

–                 Pengeluaran keinginan rutin

–                 Pengeluaran keinginan non-rutin

Adapun untuk sisi penerimaan uang, pada umumnya tidak begitu banyak jenisnya, hal ini sangat tergantung dengan jenis pekerjaan Anda. Apabila Anda seorang karyawan, pos penerimaan uang hanya ada dua pos yaitu “gaji pokok dan tunjangan lembur”. Sementara untuk Anda para profesional seperti akuntan, dokter, notaris, pedagang dan profesional lainnya, pos penerimaan dan jumlah penerimaan Anda tidak pasti setiap bulannya, oleh karena itu Anda harus melihat statistik dan catatan penerimaan uang Anda minimal dalam setahun terakhir, informasi ini akan sangat berguna untuk dijadikan sebagai dasar menetapak pos pemasukan uang Anda.

Langkah Ketiga (3)

Setelah Anda memiliki daftar penerimaan uang dan pengeluaran uang, dengan sendirinya Anda akan bisa mengetahui seberapa besar sisa kas yang Anda miliki setiap bulannya. Sisa kas ini juga dikenal dengan istilah Free Cash Flow, atau kas yang bebas untuk distribusikan kedalam berbagai alternatif pos pengeluaran, termasuk didalamnya saving dan investasi.

Pada umumnya, porsi pengeluaran bulanan seorang keluarga adalah 50% untuk kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan), 30% berikutnya untuk membayar cicilan hutang dan 20% sisanya diperuntukkan untuk saving dan investasi.

Langkah Keempat (4)

Risiko wajib dihadapi, karena dalam segala aspek kehidupan pasti ada risiko, perbedaanya hanya dari sisi ukurannya yaitu ada yang besar dan ada yang kecil. Demikian juga dalam pengelolaan keuangan keluarga, Anda memiliki risiko keuangan dan untuk itu hendaknya harus dihadapi dengan bijak yang diawali dengan cara melakukan identifikasi.

Hasil identifikasi ini akan menghasilkan informasi mengenai risiko-risiko yang potensial Anda hadapi. Daftar potensi risiko ini selanjutnya Anda pilah-pilah kedalam dua bagian besar yaitu risiko yang mampu dihadapi secara sendiri dan risiko yang tidak mampu dihadapi secara sendiri.

Untuk risiko yang mampu Anda hadapi selanjutnya dikeluarkan dari daftar risiko, karena secara ekonomi hal ini tidak akan menambah pos pengeluaran. Adapun untuk risiko yang tidak bisa hadapi secara sendiri, tentu Anda harus melimpahkan risiko ini kepada perusahaan Asuransi dengan cara membayar premi. Sehingga dengan demikian, Anda memiliki pos pengeluaran baru yaitu biaya premi.

 

Langkah Kelima (5) 

Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan keuangan. Tujuan keuangan paling tinggi adalah mencapai titik puncak apa yang disebut dengan financial freedom yaitu posisi dimana uang yang bekerja untuk Anda, bukan lagi Anda yang harus bekerja untuk mencari uang…enak bukan?

Dalam posisi yang demikian, fleksibilitas waktu yang Anda miliki sangat tinggi, sehingga sangat memungkinkan untuk melakukan terobosan dan improvisasi dalam menciptakan nilai tambah dan akumulasi asset.

Memang tujuan seperti tersebut diatas terlalu berat untuk di wujudkan, maka Anda saya sarankan untuk menetapkan tujuan keuangan mulai dari yang paling kecil, sehingga probabilitas untuk mewujudkannya sangat tinggi.

Seiring berjalannya waktu dan adanya tambahan pengalaman dari pengelolaan keuangan sebelumnya, akan sangat membantu Anda dalam menetapkan tujuan keuangan yang lebih besar dan pemilihan strategi untuk mempermudah pencapaian tujuan keuangan.

Proses ini Anda jalankan secara terus menerus, sehingga tanpa disadari, Anda sudah mencapai posisi puncak yaitu financial freedom.

 

Langkah Keenam (6)

Setelah menetapkan tujuan keuangan, langkah berikutnya yang Anda harus lakukan adalah menyusun strategi bagaiman cara mewujudkan tujuan tersebut. Dalam penyusunan strategi ini, hal pokok yang harus dipertimbangkan adalah instrumen investasi apa yang cocok dijadikan sebagai kendaraan untuk mempercepat pencapaian tujuan. Setiap pilihan instrumen investasi memiliki keuntungan dan sekaligus risiko. Untuk menjembatani risiko dan keuntungan, salah satu strategi yang disarankan untuk dilakukan adalah membuat portofolio investasi.

Portofolio investasi yang baik akan memiliki instrumen investasi yang saling melengkapi yaitu apabila instrumen A mengalami kerugian, maka disisi sebaliknya instrumen B akan menghasilkan keuntungan dan sebaliknya, sehingga secara total, posisinya akan tetap positif.

Beberapa contoh instrumen investasi keuangan yang umum dijadikan sebagai isi dari portofolio investasi adalah Saham, Reksadana, Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Surat Utang Negara (SUN), Unit Link, Asuransi Jiwa Murni, Valuta Asing, Emas.

Sebagai contoh untuk membuat portofolio yang aman adalah 50% asset dibelikan instrumen saham, 30% sisanya dibelikan instrumen Obligasi dan sisanya 20% dibelikan Emas. Pada saat harga saham naik, pada umunya harga obligasi akan turun dan harga emas akan tetap stabil. Kerugian akibat penurunan harga obligasi akan ditutupi oleh keuntungan dari kenaikan harga saham, sehingga secara total portofolio ini akan tetap mencatat keuntungan. Sementara untuk emas digunakan sebagai bumper, karena secara statistik harga emas untuk longterm akan meningkat secara terus menerus sesuai dengan trend inflasi yang terjadi.

Sebaiknya untuk menghidari kesalahan dalam menyusun portofolio investasi, Anda hendaknya menggunakan jasa profesional seperti Perencana Keuangan. Para profesional ini akan membekali Anda informasi yang relevan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk memilih alternatif investasi yang paling tepat.

 

Langkah Ketujuh (7)

Setelah melewati enam langkah sebelumnya diatas, Anda sekarang sudah memiliki informasi mengenai hal-hal sebagai berikut:

–          Pos pengeluaran rutin dan non rutin,

–          Pos pengeluaran untuk kebutuhan dan keinginan,

–          Prioritas pos pengeluaran setiap bulannya,

–          Seberapa besar Free Cash Flow Anda yang bisa di investasikan,

–          Profile risiko dan penangannya

–          Tujuan keuangan yang Anda,

–          Instrumen Investasi sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan,

–          Portofolio investasi yang cocok dengan profile risiko dan tujuan keuangan Anda.

–          Strategi investasi yang akan dilakukan untuk mempercepat pencapaian tujuan.

Informasi yang tersedia diatas adalah menjadi pondasi yang akan dijadikan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan terkait dengan menjalankan perencanaan keuangan.

Dalam langkah ke enam ini, Anda dituntut untuk bisa menjalankan rencana keuangan dengan disiplin. Karena sebagus apapun rencana keuangan yang dibuat, tanpa adanya disiplin yang ketat dari pelaksana, perencanaan keuangan tidak akan memberikan hasil yang diharapkan.

 

Langkah Kedelapan (8)

Langkah terakhir yang Anda harus lakukan adalah memantau hasil rencana keuangan dalam periode tertentu secara rutin. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan bahwa rencana keuangan berjalan dalam koridor yang telah ditetapkan.

Apabila rencana investasi tidak sesuai dengan harapan, maka perlu dilakukan strategi re-balancing atau merombak ulang portofolio investasi, sehingga dalam periode berikutnya kinerja portofolio diharapkan memberikan hasil yang positif. Hal ini dilakukan secara terus menerus, sampai tujuan keuangan tercapai.

 

C. Contoh Perencanaan Keuangan Keluarga.

Misalnya keluarga baru Tn. Abdul dan istrinya Ny. Kartika yang baru menikah awal tahun 2013 merencanakan pada ulang tahun ke 5 pernikahannya nanti, mereka sudah memiliki rumah idaman. Perkiraan harga rumah idaman yang mereka inginkan adalah kira-kira Rp.300 juta. Tn Abdul adalah pegawai tetap sebuah perusahaan dengan gaji Rp.10 juta per bulan, sementera istrinya adalah Ibu Rumah Tangga biasa, sehingga pos penerimaan keluarga ini hanya Rp.10 juta per bulan.

Berdasarkan pengalaman dari pola pengeluaran dari keluarga ini, ternyata 50% penghasilan digunakan untuk biaya kebutuhan pokok, 20% untuk membayar cicilan kendaraan dan premi asuransi, sedangkan 30% sisanya di tabung sebagai dana emergency dan investasi.

Kembali kepada tujuan keuangan untuk memiliki rumah lima tahun yang akan datang yang harganya diperkirakan Rp.300 juta. Sementara itu disisi lain pos penerimaan yang bisa di alokasikan untuk di investaskan hanya sebesar Rp.3 juta. Artinya kalau dihitung dengan jumlah bulan selama lima tahun (60 bulan), akumulasi uang tersebut hanya Rp.180 juta, sehingga masih kurang Rp.120 juta.

Sekarang apa yang harus dilakukan untuk mempercepat akumulasi asset..?

–          Mencari alternative instrument investasi yang dapat memberikan return maksimal, sehingga investasi sebesar Rp.3 Juta per bulan tersebut, akan menjadi Rp.300 juta pada bulan ke enam puluh.

 

Dengan menggunakan perhitungan Future Value Interest Factor Annuity (FVIFA), ternyata tingkat suku bunga yang harus dicapai untuk menjadikan cicilan Rp.3 juta per bulan tersebut menjadi Rp.300 juta dalam lima tahun yang akan datang adalah sebesar 19% per tahun.

Berdasarkan informasi diatas, selanjuntya Anda harus membangun portofolio investasi yang kira-kira return per tahunnya sebesar 19 % s/d 20 %.

 

Kalau instrument investasi konvensional berupa Deposito di bank, hal ini mustahil dicapai, karena saat ini tingkat suku bunga deposito hanya dikisaran 4 % tahun, artinya Anda membutuhkan tambahan kira-kira 16%.

Beberapa alternative investasi yang disarankan untuk dilakukan oleh Tn. Abdul adalah membeli produk-produk Reksadana, dimana produk ini dapat memberikan return jauh di atas bunga deposito.

 

–          Apabila opsi pertama tidak memungkinkan dan tidak cocok dengan profile risiko Tn. Abdul, maka Tn. Abdul tetap bisa menggunakan instrument deposito, karena harus diingat bahwa masyarakat Indonesia masih banking minded, artinya tingkat kepercayaan terhadap bank jauh lebih tinggi dibandingkan dengan institusi keuangan lainnya.

 

Dengan menggunakan opsi deposito di bank, tingkat suku bunga deposito yang umum hanya di kisaran 5 %, dan terdapat batasan jumlah minimum deposito dalam hal ini Rp.10 juta. Oleh karena itu, Tn. Abdul baru bisa membuka deposito setiap tiga bulan.

 

Berdasarkan asumsi tersebut diatas, jumlah cicilan per bulan yang harus dikeluarkan oleh Tn. Abdul adalah sekitar Rp.4,750,000  atau 47.5% dari penghasilan bulanannya.

 

Apabila dibandingkan anggaran untuk cicilan investasi dengan realisasi, ternyata terdapat selisih kurang sebanyak 17.5%, disinilah berperan analisis prioritas, artinya yang lebih penting diutamakan, dan ingat manusia adalah mahluk yang paling bisa menyesuaikan keadaan.

Demikian, semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda dalam pengelolaan keuangan keluarga.

Untuk konsultasi masalah Perencanaan Keuangan, Anda dapat menghubungi kami di Nomor: 08129767143 atau 087881791990 langsung dengan Bapak Subur Harahap, MM, CFP atau kirim email ke suhaplanner@yahoo.com.

 

Selanjutnya untuk memastikan Anda tetap mendapatkan artikel-artikel berikutnya, saya sarankan Anda mendaftarkan email anda sebagai follower dari blog www.suhaplanner.com di menu yang sudah kami sediakan.

Aplikasi Prinsip Time Value of Money dalam Pengelolaan Keuangan Keluarga

Aplikasi Prinsip Time Value of Money Dalam Pengelolaan Keuangan Keluarga

Aplikasi Prinsip Time Value of Money

Dalam Pengelolaan Keuangan Keluarga

Oleh : Subur Harahap, SE, Ak, MM, CFP®

Perencana Keuangan – www.suhaplanner.com

=========================================================================

Salam Cerda$ Finan$ial untuk Anda.

 

Pengelolaan keuangan yang cerdas adalah kata kunci untuk sukses secara financial. Untuk bisa cerdas dalam mengelola keuangan, Anda harus memiliki dan mengerti ilmu keuangan. Dengan berbekal ilmu keuangan yang Anda miliki, Anda akan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam waktu yang tepat pula. Karena harus diingat, keputusan yang tepat, tidak akan ada gunanya kalau tidak realissikan pada waktu yang tepat pula, istilah kerennya OMDO alias omongan doang.

Salah satu bentuk keputusan yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan keuangan adalah waktu (timing). Oleh karena itu kesempatan untuk mendapatkan keuntungan tidak akan bisa direalisasikan kalau tidak dilakukan pada waktu yang tepat.

Disamping itu, timing juga merupakan variable penting dalam menetapkan berapa besarnya jumlah cicilan yang Anda harus lakukan untuk mendapatkan sejumlah uang tertentu dimasa yang akan datang. Semakin cepat Anda memulai investasi, semakin ringan cicilan yang Anda harus lakukan dan sebaliknya cicilan Anda akan semakin berat apabila waktu yang tersedia sudah semakin singkat.

Variable penting lainnya yang Anda harus perhatikan dalam menyusun perencanaan investasi adalah tingkat pengembalian (return) atau dikenal juga dengan istilah bunga. Tingkat pengembalian (bunga) harus ditetapkan dalam range yang moderat, artinya jangan terlalu kecil dan jangan pula terlalu besar. Kalau tingkat bunga yang ditetapkan terlalu besar, ada kehawatiran sulit untuk merealisasikannya, sehingga tunjuan keuangan Anda tidak akan tercapai. Sebaliknya kalau tingkat bunga yang ditetapkan terlalu kecil, beban cicilan Anda terlalu besar, sehingga dikwatirkan menggangu cash flow bulanan Anda.

Tetapi kalau boleh memilih, pilihan yang paling aman adalah tingkat bunga yang rendah, artinya secara sadar kita sudah perkirakan bahwa kejadian yang paling buruk yang akan terjadi. Kalau dalam kondisi yang paling buruk saja Anda masih tetap survive, artinya risikonya keuangan Anda tentunya semakin kecil.

 

PRINSIP TIME VALUE OF MONEY

Prinsip dasar “Time Value of Money” adalah nilai dari Rp.1,000,- hari ini, lebih besar nilainya dibandingkan dengan Rp.1,000,- yang akan diterima dimasa yang akan datang. Prinsip dasar ini tentu akan menimbulkan pertanyaan besar dalam benak Anda yang belum paham, apa gerangan yang menyebabkan dan melatar belakangi konsep dasar ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, mari kita ilustrasikan secara langsung dengan menggunakan contoh kasus nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga mudah memahaminya.

Misalkan harga beras Rojo Lele per Kg pada tahun 2008 adalah sebesar Rp.6,500, sementara harga beras yang sama pada tahun ini adalah sebesar Rp.11,000 per Kg. Kalau kita lihat dari sisi kualitas dan rasa beras tersebut tidak ada bedanya sama sekali, sama-sama enak di makan dan pulen. Sementara kalau dilihat dari sisi harga, ternyata terjadi peningkatan harga kurang lebih sekitar 69% dalam tempo 5 tahun.

Melihat penomena tersebut diatas, timbul pertanyaan berikutnya, yaitu kenapa harga beras bisa naik padahal kualitas berasnya sama persis? Jawabannya adalah karena prinsip “time value of money” bekerja, dimana nilai uang sebesar Rp.6,500 tahun 2008, nilainya akan sama dengan uang sebesar Rp.11,000 saat ini atau bisa juga dijelaskan dengan menyebutkan bahwa nilai nominal uang meningkat, tetapi nilai rielnya (daya belinya) pada dasarnya tidak mengalami perubahan sama sekali yaitu tetap hanya bisa membeli 1 Kg beras Rojo Lele.

Perubahan nilai nominal pada kasus diatas terjadi akibat adanya pengaruh dua variable yaitu variabel waktu (n) dan tingkat suku bunga (r). Dalam kasus ini, variable waktu (n) adalah sebesar 5 yaitu selisih antara tahun 2013 dengan tahun 2008, sementara variabel tingkat suku bunga (r) adalah sebesar 11.09% per tahun.

Dengan menggunakan contoh kasus diatas, tetapi dengan sudut pandang yang sama tetapi dengan ilustrasi yang berbeda ternyata hasilnya juga akan tetap sama. Misalkan Anda mendapatkan uang sebesar Rp.6,500 pada tahun 2008 dan langsung menyimpannya dalam rekening tabungan Simpedes BRI dan diketahui rata-rata tingkat suku bunga tabungan BRI selama lima tahun belakangan ini kurang lebih 11.09% per tahun. Pertanyaan-nya adalah berapakah nilai nominal uang Anda saat ini di rekening tabungan BRI…?

Pertanyaan diatas dapat dijawab dengan menggunakan rumus turunan dari konsep “time value of money” yaitu dikenal dengan Rumus Future Value à {NPV x (1+r)^n}.

Dimana diketahui:

  • NPV adalah nilai uang saat ini (tahun 2008) à Rp.6,500
  • r adalah tingkat suku bunga à 11.09% atau 0.1109
  • n adalah jumlah periode tahun à 5 tahun

Perhitungan:

Future Value   = NPV x (1 + r) ^ n

Future Value   = Rp.6,500 x (1 + 0.1109)^5

Future Value   = Rp.6,500 x 1,6923

Future Value   = Rp.11,000

Selanjutnya untuk lebih memantapkan pemahaman Anda mengenai konsep time value of money, sekarang ilustrasi di atas dirubah sudut pandangnya yaitu saat ini (tahun 2013) Anda memiliki uang sebesar Rp.11,000, berapakah nilai uang tersebut pada bulan Januari tahun 2008 yang lalu… dan diketahui tingkat suku bunga sebesar 11,09% per tahun…?

Pertanyaan diatas dapat dijawab dengan menggunakan rumus Present Value. Dalam rumus present value ini, Anda ibaratkan memiliki uang dalam jumlah tertentu pada awal tahun 2008 yaitu kita sebut nilainya dengan “X”, rata-rata tingkat suku bunga setiap tahunnya adalah sebesar 11,09% p.a, sehingga nilai nominal uang tersebut akan menjadi Rp.11,000 dalam tempo lima tahun yang akan datang.

Rumus Present Value adalah [ PV = FV x { 1 / (1+r)^n } ]

Dimana diketahui :

PV       = ?

FV       = Rp.11,000

r           = 11.10% p.a. atau 0.1109

n          = 5

Untuk menghitungnya, mari kita masukkan nilai variable tersebut dalam rumus Present Value (PV) yaitu sebagai berikut:

PV       = FV x { 1 / (1+r)^n}

PV       = Rp.11,000 x { 1 / (1 + 0.1109)^5}

PV       = Rp.11,000 x 0.590909

PV       = Rp.6,500

Hasil yang diperoleh akan tetap sama, yaitu nilai nominal uang sebesar Rp.6,500 tahun 2008, daya belinya akan sama dengan uang sebesar Rp.11,000 saat ini (tahun 2013), dengan asumsi rata-rata tingkat suku bunga per tahuan sebesar 11,09 %.

Note:

Tingkat suku bunga (margin atau diskonto) dapat juga diartikan sebagai tingkat inflasi yang terjadi setiap tahunnya, karena pada prinsipnya inflasi juga akan mengurangi daya dari uang.

 

APLIKASI PRINSIP TIME VALUE OF MONEY

DALAM KEUANGAN KELUARGA

Konsep time value of money sangat banyak gunanya dalam kehidupan kita khususnya yang berhubungan dengan masalah keuangan. Banyak permasalahan yang dapat diselesaikan dengan menggunakan konsep time value of money, bahkan perhitungan yang sangat rumit menjadi mudah dan sederhana dengan menggunakan konsep time value of money. Beberapa kasus aplikatif yang dapat menggunakan konsep time value of money adalah sebagai berikut:

–                 Untuk mengetahui berapa tingkat pengembalian (bunga) yang Anda peroleh atas suatu program investasi yang Anda lakukan.

–                 Untuk mengetahui berapa jumlah cicilan perbulan atas suatu pinjaman.

–                 Untuk mengetahui berapa jumlah iuran pensiun perbulan atas rencana dana pensiun.

–                 Untuk mengetahui berapa jumlah investasi perbulan untuk mendapatkan asset yang diinginkan.

–                 Untuk mengetahui berapa tingkat pengembalian yang harus diperoleh untuk mencapai suatu tujuan keuangan.

–                 Dll.

 

A. Untuk Mengetahui Berapa Keuntungan Yang Anda Peroleh atas Suatu Investasi Tunggal

 

Misalkan tahun 2000, Tn. Badu membeli tanah seluas 1000 m2 dengan harga Rp.500,000 per meter atau Rp.500,000,000. Pada tahun 20013, tanah tersebut ditawar orang untuk dibeli dan dijadikan gudang barang elektronik dengah harga Rp.1,000,000 per meter.

Dengan menggunakan rumus Future Value, anda akan dapat mengetahui berapa tingkat pengembalian per tahun atas investasi Tn. Badu tersebut diatas dalam angka relatif atau persentase. Selanjutnya tingkat pengembalian dalam bentuk persentase tadi, akan bisa langsung dibandingkan dengan benchmark return investasi dalam pasar uang dan investasi (tingkat kenaikan harga IHSG per tahun). Misalkan rata-rata market return IHSG dalam 13 tahun terakhir adalah 10% per tahun.

Dalam kasus ini, Anda mendapat 2 manfaat sekaligus dari aplikasi konsep time value of money yaitu mengetahui berapa besarnya tingkat pengembalian Tn. Badu dari investasi tanahnya dan langsung bisa mengukur kinerja tingkat pengembalian program investasi ini dengan market return (IHSG). Sehingga dengan demikian Anda memiliki dasar untuk menjelaskan bahwa pilihan investasi dalam bentuk tanah merupakan keputusan yang tepat atau bukan.

Selanjutnya mari kita lengkapi perhitungan Future Value dari hasil investasi Tn. Badu.

 

Diketahui :

PV       = Rp.500,000,000

FV       = Rp.1,000,000,000

N         = 13

 

Ditanya = r

 

Jawab              à        FV                   = PV x (1 + r)^n

Rp.1 M            = Rp.500 jt x (1+x)^13

Rp.1 M            = Rp.500 jt x (1 + 0.054766)

Rp.1 M            = Rp. 1 M

Berarti tingkat pengembalian per tahun adalah sebesar 0.054766 atau 5.48%, sehingga apabila dibandingkan dengan market return, ternyata kinerja investasi dalam tanah tidak begitu menggembirakan karena hasilnya menunjukkan bahwa market return lebih besar 82.50%

 

 

B. Untuk Mengetahui Berapa Jumlah Cicilan Pinjaman Per Bulan Atas Sejumlah Pinjaman.

Misalnya Tn. Badut meminjam uang sebesar Rp.1 M kepada Bank Syariah Mandiri Cabang Tanjung Priok – Jakarta. Uang tersebut akan digunakan untuk membeli mesin pabrik pengolahan roti. Disepakati uang sejumlah tersebut diatas akan dikembalikan secara angsuran dalam tempo 5 tahun (60 bulan) terhitung mulai tanggal 1 Januari 2013. Tingkat suku bunga atau margin yang disepakati dalam transaksi ini adalah sebesar 12.00 % per tahun.

Dengan menggunakan rumus aplikasi time value of money, akan dapat diketahui berapa jumlah cicilan atas pinjaman tersebut diatas yaitu sebagai berikut:

Diketahui :

Present Value              = Rp.1 M

Margin / Bunga           = 12 % p.a. atau 1% per bulan

N Period                      = 5 tahun atau 60 bulan

 

Berapa cicilan (PMT) per bulan          = ?

 

Untuk lebih memudahkan penghitungan, Anda bisa menggunakan rumus yang terdapat dalam excel, dimana Anda dapat menulis rumus seperti berikut ini dalam sel excel à “=pmt(rate,nper,pv)”. Dimana :

 

PMT    = jumlah cicilan per bulan

Rate     = tingkat suku bunga per bulan

Nper    = jumlah periode (bulan)

PV       = Present Value

 

 

Apabila variable yang ada dimasukkan dalam rumus excel akan kelihatan seperti ini

(untuk mendapatkan article yang lengkap dengan gambarnya,  Anda bisa download file-nya disudut kira atas tulisan ini)

 

Hasilnya menunjukkan Rp.22,244,447 per bulan.

 

Mudah bukan menggunakan excel!

 

C. Untuk Mengetahui Berapa Jumlah Iuran Pensiun Untuk Program Dana Pensiun Anda.

 

Masa pensiun adalah masa purna bhakti, dimana dalam masa ini Anda akan menikmati hidup tanpa beban sebagaimana layaknya ketika Anda dalam usia produktif. Namun banyak kejadian yang menyedihkan yaitu dalam masa purna bhaktinya, bukannya pikiran menjadi plong tetapi malah semakin menderita, karena harus mencari uang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari sementara kemampuan pisik untuk bekerja sudah jauh menurun.

 

Untuk mengantisipasi kejadian tersebut diatas, Anda sebagai orang yang care terhadap masa depan Anda, sudah selayaknya sejak dini menyiapkan program dana pension mandiri. Saat ini banyak produk investasi keuangan yang dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangbiakkan dana Anda. Dengan program investasi yang tepat dan disusun berdasarkan portofolio dan profile risiko Anda, diharapkan dana yang akan terkumpul pada saat Anda memasuki usia pension tidak akan jauh meleset.

 

Misalkan Tn. Alex seorang professional pertambangan minyak yang bekerja di Exxon Mobil Indonesia, saat ini usianya 35 tahun dan memiliki 2 orang putra dan istri tidak bekerja alias Ibu Rumah Tangga. Karena Tn. Alex orang yang care terhadap masa depannya, maka beliau berencana untuk membuat program dana pension mandiri yaitu program dana pension yang dikelola sendiri dengan menggunakan instrument keuangan sebagai wahana untuk mengembangbiakkan assetnya.

 

Rencananya Tn. Alex akan memasuki usia pension pada umur 55 tahun. Biaya hidup per bulan saat ini adalah sebesar Rp.10 juta dan diperkirakan biaya hidup Tn. Alex pada saat memasuki usia pension adalah 70% dari biaya hidup bulanan sebelum memasuki usia pension. Diperkirakan tingkat suku bunga atau market return per tahun adalah 15%, adapun tingkat kenaikan biaya hidup atau inflasi kira-kira 10% per tahun. Gaji Tn. Alex saat ini adalah sebesar Rp.20 juta. Menurut data statistic, usia orang Indonesia rata-rata 70 tahun.

 

Berdasarkan informasi yang disediakan diatas, Anda diminta untuk menghitung berapa iuran pension yang harus disisihkan oleh Tn. Alex untuk program dana pension mandirinya…?

 

Diketahui:

 

Usia Saat ini                                        = 35 tahun

Usia Pensiun                                       = 55 tahun

Masa Program Dana Pensiun              = 20 tahun

Gaji tahun ini                                      = Rp.20 juta

Biaya Hidup bulanan saat ini              = Rp.10 juta

Tingkat Market Retrun                       = 20 %

Tingkat inflasi biaya hidup                 = 10 %

 

Ditanya berapa iuran dana pension Tn. Alex..?

 

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung, berapa besarnya biaya hidup setelah masa pension.

 

Step – I

Biaya hidup saat ini (Present Value)               = Rp.10 juta

Tingkat inflasi per tahun (r)                            = 10 % atau 0.8333% per bulan

Periode (n)                                                      = 20 tahun atau 240 bulan

Ditanya Future Value                                     = …?

 

Jawaban à     FV                               = PV x (1 + r)^n

FV                               = Rp.10 Juta x (1+0.833%)^240

FV                               = Rp.10 Juta x 7.3280

FV                               = Rp.73,280,736 atau dibulatkan Rp.73 juta

 

Step – II

Selanjutnya, setelah nilai nominal Rp.10 juta dalam 20 tahun yang akan datang diketahui, maka kita bisa menghitung berapa biaya hidup per bulan pada masa 20 tahun yang akan datang yaitu 70% dari nilai tersebut sehingga menjadi Rp.51,1 juta (70% x Rp.73 juta).

 

Step – III 

Mencari berapa nilai asset yang harus dimiliki pada saat usia pension jatuh tempo, hal ini dapat dihitung dengan cara mengalikan Rp.51, 1 juta tersebut dengan perkiraan periode masa pension (bulan), dalam kasus ini adalah 15 tahun yaitu selisih 70 – 55 atau dalam bentuk bulan menjadi 180 bulan. Sehingga nilai asset yang harus terbentuk adalah sebesar Rp.9,198,000,000 atau dibulatkan mendi Rp.9 M. Nilainya cukup besar bukan…?

 

Step – IV

Mencari berapa iuran bulanan untuk mendapatkan dana sebesar Rp.9 M pada masa 20 tahun yang akan datang…?

 

Tingkat Market Return           = 20%

N period                                  = 20 tahun atau 240 bulan.

Future Value                           = Rp.9 M

Iuran Pensiun                          = ….?

 

Yang harus terlebih dahulu dicari adalah Future Value Interest Factor Annuity (FVIFA), yaitu sebagai berikut?

FVIFA                        = [((1 + r)^n-1) – 1] / r

FVIFA                        = [((1 + 1.667%)^240-1)] / 1.667%

FVIFA                        = 50.96 / 1.667%

FVIFA                        = 3,057.69

 

Setelah mendapatkan angka FVIFA, selanjutnya kita membagikan Rp.9 M dengan nilai FVIFA, sehingga ditemukan besarnya cicilan dana pension per bulan.

 

Cicilan Dana Pensiun              = Dana Pensiun / FVIFA

Cicilan Dana Pensiun              = Rp.9 M / 3,057.69

Cicilan Dana Pensiun              = Rp.2,943,400 atau dibulatkan menjadi Rp.2,950,000.

 

Dengan demikian dapat diketahuai, bahwa untuk mendapatkan dana sebesar Rp.9 pada masa 20 tahun yang akan datang, kita perlu melakukan iuran sebesar Rp.2,950,000 per bulan dengan asumsi tingkat return 20% per tahun, simple bukan …?

 

Metode perhitungan diatas juga bisa digunakan untuk menghitung antara lain :

–          berapa cicilan atau cadangan biaya pendidikan anak ketika ingin memasuki bangku kuliah.

–          berapa cicilan atau investasi yang harus dilakukan untuk membeli rumah atau mobil dimasa yang akan datang.

 

Untuk konsultasi Perencana Keuangan, dapat menghubungi kami di 08129767143 atau 087881791990 langsung komunikasi dengan Bapak Subur Harahap, MM, CFP atau kirim email ke suhaplanner@yahoo.com.

 

Selanjutnya untuk memastikan Anda tetap mendapatkan artikel-artikel berikutnya, saya sarankan Anda mendaftarkan email anda sebagai follower dari blog www.suhaplanner.com di menu yang sudah kami sediakan.